Buya Syafii Maarif dan Wajah Islam yang Ramah

Prinsip persaudaraan dalam perbedaan menghendaki relasi timbal balik antara Muslim dan non-Muslim. Hal ini tergambar dari penjelasan Buya Syafii bahwa, “Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian.” Jadi, prinsip hidup ini selain menghendaki umat Muslim Indonesia untuk meruntuhkan ego mayoritanismenya, juga menghendaki umat non-Muslim untuk mengedepankan sikap saling pengertian kepada umat Muslim. Artinya, baik Muslim maupun non-Muslim sama-sama mengedepankan toleransi, demi wujudnya kehidupan damai bersama.

Oleh karena itu, ekspresi beragama yang friendly face, sebagaimana yang saya sentil di awal, itu sebenarnya tidak hanya untuk umat Islam. Namun, itu berlaku untuk seluruh umat beragama dalam masyarakat Indonesia; umat Islam, Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu, dan Penghayat, semua kita perlu menampakkan ekspresi beragama yang friendly faces. Hal ini penting agar kehidupan damai dalam perbedaan dapat tewujud dan terjaga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita harus paham betul dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Kita harus mengerti bahwa tidak hanya ada sesama Muslim di sekitar kita, tapi juga ada non-Muslim. Dalam keragaman ini, jika kita tidak mengedepankan prinsip persaudaraan dalam perbedaan maka, sebagaimana Buya Syafii dalam Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman, khawatirnya agama tidak lagi berfungsi sebagai sumber kedamaian dan keamanan. Sebab, ekspresi beragama yang tidak mengedepankan toleransi berpotensi menjadi sumber kekacauan atau bahkan peperangan.

Rasanya tak perlu panjang lebar saya menjelaskan kekhawatiran Buya Syafii itu. Sudah banyak contohnya konflik antarumat beragama yang terjadi di negeri ini. Kasus-kasus yang seharusnya menyadarkan kita betapa pentingnya menjaga persaudaraan dalam perbedaan. Persaudaraan antarumat beragama ini dapat kita capai dengan mengedepankan ekspresi beragama yang ramah satu sama lain. Kita memang berbeda, namun kita adalah saudara sebangsa, setanah air, dan juga sekemanusiaan.

Tinggalkan Balasan