Setelah menamatkan Sekolah Mu’allimin Muhammadiyah, Balai Tengah, Lintau, pada tahun 1953, saat Buya Syafii berusia 19 tahun, kemudian melanjutkan ke Sekolah Mu’allimin Yogyakarta sampai tahun 1956. Kemauan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan begitu kuat, hingga Buya Syafii menjadi sosok yang cerdas dan berpengetahuan. Di Sekolah Mu’allimin Yogyakarta, Buya Syafii aktif di organisasi Kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pimpinan Majalah Sinar. Sejak itu kreativitas dan kualitas pengetahuan Buya Syafii dimulai dan menjadi dasar keterampilan dalam membangun dunia pendidikan yang berkualitas.
Hingga tahun 1957, atas permintaan Konsul Muhammadiyah di Lombok, Buya Syafii berangkat ke sebuah kampung bernama Pohgading untuk menjadi seorang guru. Setelah itu, Buya Syafii melanjutkan pendidikan di Universitas Cokroaminoto, Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP UNY, Universitas Ohio Amerika Serikat hingga Universitas Chicago, Amerika Serikat. Latar belakang pendidikan Buya Syafii menunjukkan bahwa beliau merupakan sosok cendikia yang tidak dapat diremehkan. Beliau merupakan salah satu tokoh pendidikan yang sangat berpengaruh dan berkontribusi faktual terhadap kehidupan bangsa dan negara.

Buya Ahmad Syafii Maarif adalah tokoh Muhammadiyah yang sangat berkompeten dalam membangun pendidikan bangsa. Beliau menjadi Ketua Umum Muhammadiyah selama tujuh tahun, dari tahun 1998 – 2005. Bukan hanya terkait dengan pendidikan, lebih dari itu, pemikiran dan karyanya juga seringkali memberikan pencerahan terhadap permasalahan bangsa. Pemikirannya yang tertuang dalam berbagai karya ilmiah dimuat di berbagai media massa. Jadi, Buya Syafii Maarif merupakan tokoh bangsa yang tidak akan begitu saja terlupakan. Karena, beliau telah membangun berbagai konsep pendidikan dan kebangsaan untuk kebaikan generasi yang akan datang.
