Kedua, model tashawwur–tashdiq. Dalam dunia pesantren, dua kata ini bisa kita temui dalam ilmu mantiq. Tashawwur merupakan bentuk masdar dari tashawwara-yatashawwaru yang berarti menggambarkan atau membayangkan. Tashdiq juga masdar dari kata kerja shaddaqa-yushaddiqu yang berarti membenarkan. Sederhananya, kalau tashawwur itu hanya gambaran, sedangkan tashdiq adalah tashawwur yang disertai dengan hukum (baik secara negatif maupun afirmatif).
Jika ditarik dalam konteks filterisasi informasi, arti penting model tashawwur–tashdiq mengarahkan untuk tidak boleh langsung memberi hukum tashdiq (labeling pembenaran atau kesalahan) suatu informasi sebelum melakukan tashawwur (gambaran/penelaahan) terlebih dahulu. Kita diharuskan membaca utuh dan mencermati berkali-kali supaya tidak terkecoh. Sebab, dalam tilikan saat ini, judul dan isi informasi yang berseliweran kebanyakan nihil korelasi. Judul dan isi tidak bersesuaian.

Ketiga, takhrijul hadits. Takhrij hadits merupakan metodologi dalam meneliti kedudukan suatu hadis. Dengan metode ini, kita bisa mengetahui mana hadis yang masuk klasifikasi sahih, hasan, ataupun dhaif. Alat ukur penilaian kualitas hadis, dilihat dari sanadnya bersambung (muttasil), diriwayatkan perawi adil dan dhabit (kuat hafalan), serta (matan) di dalamnya tidak terdapat syadz (keraguan) dan ‘illat (cacat).
Maka dalam konteks ini, ada langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menyaring informasi yang beredar di ruang publik. Pertama, dilihat dari sanad/pembawa informasi. Apakah ia memiliki keilmuan yang kompeten atau tidak. Kedua, dilihat dari matan/redaksional informasi. Isi dari informasi yang beredar, tidak boleh ada syadz dan ‘illat. Dalam takhrij hadits, ketika kualitas sanadnya sahih, maka ada kecenderungan matannya juga sahih. Artinya, jika pembawa informasi merupakan orang berkompetensi keilmuan, maka isi informasinya pun pasti berbobot dan penuh keba(j)ikan.
Itulah tipologi baru dalam memfilter informasi yang merujuk pada tradisi ilmu kepesantrenan. Tipologi tersebut sangat khas karena digali dari standar sumber otentik (mu’tabar) dan transmisi ilmu (sanad) yang jelas. Standpoint baru nuansa kepesantrenan (islam) ini sangat cocok dijadikan rujukan dan pegangan dalam menghadapi keriuhan tahun ini, yaitu tahun politik. Maka, mari jaga ruang publik dengan memilah-milah informasi.
sumber ilustrasi: universitas negeri surabaya.
