Setelah membaca esai Balim secara keseluruhan, kita bisa menangkap pesan bahwa menjual es teh di tengah teriknya matahari lebih menjanjikan daripada menjajakan majalah. Ia bahkan sempat berpikir untuk beralih profesi, dari tim redaksi majalah menjadi penjual es teh keliling. Dalam salah satu paragrafnya, Balim menulis:
Selama buku-buku baca masih belum berposisi seperti layaknya es teh, maka sekuat apa pun Anda berusaha untuk “menumbuhkan semangat baca” tidak akan ada gunanya. Karena, membaca masih belum dianggap sebagai kebutuhan yang primer atau setidaknya sekunder layaknya es teh bang haji. Akhirnya, saya berkhayal. Enaknya kita ganti profesi menjadi pegawainya Bang Haji saja, ya? Ungkapnya (halaman 74)

Selain esai Balim, buku ini juga memuat banyak tulisan lain yang sama menariknya untuk dibaca. Setiap halaman dari “Catatan Dinding” memancarkan semangat yang tak pernah surut, sebuah tekad kuat untuk terus belajar dan berbagi pengetahuan, meskipun di tengah berbagai keterbatasan. Inilah semangat literasi yang sejati, yang perlu kita apresiasi dan teladani.
DATA BUKU
Judul Buku: Catatan Dinding
Penulis: Mahasantri Ma’had Aly Situbondo
Tahun Terbit: Cetakan I, Juli 2024
Tebal: 207 halaman; 14 x 20 cm
