Malahan kalau mengikuti pandangan Gus Ulil, kita menemukan frasa “demokrasi dikorbankan”, artinya bukan hanya menjauh, tetapi demokrasi sudah “dilukai”, entah kalau kita pakai imajinasi, bisa muncul pertanyaan, seperti; apakah dicincang, disembelih, dan seterusnya.
Kalau kita baca lagi buku Bung Hatta; Demokrasi Kita, kita akan menemukan frasa “semua anggota ditunjuk oleh Presiden”. Bukankah menjadi terang bahwa sikap presiden yang berlebihan dan sampai melanggar undang-undang itu sudah menyalahi demokrasi? Itulah sebabnya, para dosen, terutama almamater Pak Jokowi, UGM, menegur dengan teguran yang lembut dan kemudian makin mengeras karena mereka (para dosen dan guru besar) menanggap bahwa Presiden telah “keluar jalur”, yaitu menjauh dari nilai-nilai demokrasi.

Bung Hatta juga menyinggung soal tugas DPR yang dianggapnya tidak berjalan sesuai dengan benar sesuai dengan fungsinya dalam demokrasi, mengakibatkan kondisi demokrasi semakin jatuh merosot dan terjerembab luka parah. Bahkan waktu itu, Bung Hatta telah menulis yang menggambarkan kondisi bagaimana respons orang-orang atas kemerosotan demokrasi itu, begini:
“… banyak orang menyangka demokrasi lenyap dari Indonesia. Tetapi itu tidak benar.”
Kemudian beliau melanjutkan;
“Demokrasi kita tertindas sementara karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan penuh keinsafan.”
Bung Hatta berpandangan bahwa demokrasi telah mengalami krisis, tapi tidak mati. Demokrasi tertindas sementara karena kesalahannya sendiri, kesalahan pemimpin yang berasal dari rakyat, atau kesalahan rakyat keseluruhan?
Frasa “kesalahannya sendiri” terasa sangat abstrak, tidak jelas, seolah Bung Hatta ingin mengatakan bahwa, Soekarno tidak salah (Bung Hatta mau membela sahabatnya itu), tetapi memang sistem demokrasi begitu, ada jatuh ada bangun.
Hal senada dengan Bung Hatta juga diucapkan oleh Gus Ulil dalam beberapa pernyataannya di kanal Youtube. Demokrasi tidak mati, hanya krisis. Jika tengah terjadi “krisis demokrasi”, mengapa justru demokrasi yang dikorbankan? Apakah tidak ada cara lain, misalnya, mengorbankan jabatan dan kekuasaan, mengembalikannya ke rakyat atau ke pengelolaan yang benar dan masuk akal?
Di situlah tidak ada jawaban. Hanya frasa “krisis demokrasi” dan “demokrasi dikorbankan”, keduanya (Bung Hatta dan Gus Ulil) sama-sama mengatakan “demokrasi belum mati”.
Frasa-frasa itulah yang kita temukan, tetapi tidak jelas apa sebenarnya yang terjadi, krisis itu terjadi karena apa, yang krisis demokrasi atau bangsa ini, tidak pasti. Jika krisis, yang dikorbankan itu demi apa, tidak jelas. Apakah lalu frasa lain yang dijadikan dalil, “keadaan darurat”, tapi darurat apa? Tidak pernah menjadi jelas soal itu, yang tersisa kini hanya pertanyaan besar, serumit itukah menjalankan demokrasi dengan benar?
Bagi saya, apa yang tengah terjadi sekarang, dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, intelektual, akademisi, mahasiswa, ulama, tokoh-tokoh lainnya, sudah memang itulah yang terjadi. Mereka menjalankan perannya masing-masing untuk saling “menjaga”, ada yang menjaga “masyarakat”, menjaga “nilai demokrasi”, menjaga “hati nurani”, tetapi di sisi lainnya ada juga yang tengah menjaga “kekuasaan”, “uang”, “kepentingan”, “jabatan”.
Lagi-lagi ada yang punya idealisme, ada yang takluk pada realita. Ada yang realitanya cuma oportunis dan mengikuti ambisi, ada yang menginginkan kedamaian, ada yang diam-diam mengambil keuntungan, ada yang masih berharap Indonesia baik-baik saja tanpa harus terlibat, dan sebagainya .
Ya, itulah yang sedang terjadi, dan nanti waktu yang akan berbicara selanjutnya, sampai di mana kebenaran perlu dikoreksi ulang. Apakah setelah pengalaman pahit, kita bangkit dengan penuh keinsyafan, seperti kata Bung Hatta, atau malah mengulang kesalahan yang sama di masa depan? Entahlah. Waktu juga yang akan menjawabnya.
Sebagai catatan kecil, tulisan ini tidak berniat menjawab apa-apa persoalan, tidak juga memihak atau menyalahkan pihak tertentu. Saya hanya ingin mengajak agar kita membaca kembali pemikiran Bung Hatta dan catatan kritisnya. Ya semuanya saja membaca, agar terlihat jelas apa yang penting dan harus dikerjakan ke depan.
