Seringkali ketika saya hendak menulis suatu subjek, dalam bentuk opini atau esai, kadang malah sudah menyiapkan judulnya atau bahkan menuliskan kalimat pembukanya, tiba-tiba proses itu terhenti. Seperti ada perintah dari sang waktu: tunggu dulu! Akhirnya tulisan itu saya tinggalkan dan mengerjakan yang lain.
Atau, seringkali ada sesuatu yang mengganggu sehingga saya tak jadi menuliskannya. Mungkin terantuk dengan kesibukan lain. Mungkin direbut oleh topik tulisan yang berbeda. Mungkin direcoki oleh perkara-perkara teknis nan sepele. Mungkin saja juga oleh kemalasan. Tapi, apa pun penyebabnya, akhirnya rencana menulis jadi tertunda.

Belakangan, di kemudian hari, ketika terjadi suatu peristiwa, atau ketika ada fenomena baru muncul yang berkaitan dengan subjek-subjek yang hendak saya tulis itu, saya sering berguman sendiri: beruntung saya tak jadi menuliskannya. Betapa pilonnya jika saya jadi menuliskannya berdasarkan perspektif yang terbangun ketika itu.
