CELURIT MUSIM PANAS
malam sudah benar-benar tembus pandang
maut tak punya tempat untuk menepi
hingga pada sepi yang koyak,
kesunyian yang berderak
mata nyalang mesti memburu bayang-bayang
:entah patahan dahan, entah pahatan kematian
samsu yang terperangkap gelap
menggelinding ke balik bebukit kelam

dendam macam apa dibendungnya?
tiba-tiba malam semakin pekat
gagak teriak dengan suara serak
runcing hujan mengecup sebilah celurit warisan
lihatlah, bagaimana kesedihan memawar
samar-samar gending mengirim getar kenangan
setelah tebasan pertama
darah mengucur dari pipi purnama
tebasan kedua, dendam tertawa
sepuas luka-luka dada
harga diri macam apa ditanggungnya?
Yogyakarta, 2024.
NOTA KECIL AKHIR TAHUN
