di terminal terakhir,
sebuah catatan dihadapkan dengan wajah kesunyiaan
kalimat-kalimat sedu-sedan, pena hampir patah
seperti menanggung seribu cuaca
bahagia dan sedih adalah kuntum-kuntum nasib, zakiyya
angin gelisah sepanjang malam basah
musim merupakan kenangan yang kerap lewat
tapi kita enggan mencatat
atau prihal angka-angka yang rontok dari almanak
di dinding kamar
membikin sekuntum bulan memar
sehampar kabut menelan sasmita daun-daun samar-samar

apa masih perlu menangisi yang berlalu?
letusan kembang api di langit kota-kota
semacam resital kesedihan yang cukup meronta
sungai di kelopak mata kita sebatas basah, zakiyya
Yogyakarta, Desember 2023
KEPADA ZAKIYYA
bagaimana mungkin, seribu tahun kesunyian
yang perlahan-lahan retak
menjadi kebun mawar,
sedang kebisuan kita adalah tabiat batu-batu
yang semakin mengeras di tubuh waktu
kerinduanku bukan utusan dari sisa luka masa lalu:
tak akan ada burung ababil
yang hendak menjatuhkan kerikil jahanam
ke teluk dada kehilanganmu
malam kerap menawarkan kesunyian yang lain
penunggu sepertiku, tak goyah dipintal angin
walau takdir sering mengkoyak ingin
