Usai salat maghrib berjamaah, saya terus menangis meminta pulang agar bisa bertemu ibu, tapi jarak pesantren dan rumah begitu jauh hingga rasanya tak mungkin permintaan itu terkabul begitu saja. Keesokan harinya, ketika teman sekamar disambangi ibunya, saya hanya bisa melihat sambil menangis sesenggukan menyebut ibu berulang kali atau bahkan berdoa meminta agar ibu rindu dan segera nyambangi. Ini terjadi hampir dua hingga tiga tahun pertama. Terluka? jelas.
Tiga tahun pertama di pesantren adalah kenangan yang sulit untuk dihapuskan dari ingatan bagi anak seusia itu. Apalagi, sedikit banyak diisi kenangan menyedihakan versi anak anak, mulai tidak kerasan karena berbagai alasan, mandi dan buang air besar dengan antrean panjang, tidur tanpa didampingi ibu, kesulitan mencuci baju, hingga teman yang tidak semuanya menyenangkan. Tetapi, tentu saja pengalaman seperti ini tidak bisa dipukul rata. Ada juga yang langsung kerasan dan menikmati hidup berjauhan dari orang tua. Sayangnya, saya termasuk anak yang sulit berjauhan dari orang tua.

Tapi kesedihan tak selamanya tinggal. Terkadang hal di sekeliling saya yang membuat takjub, sebab belum pernah saya temui sebelumnya. Hal ini bisa mengalihkan luka dengan cepat. Satu per satu akan saya ceritakan. Salah satunya adalah cerita lucu tentang kesurupan alias kerasukan setan. Sejak di pesantren, saya jadi memiliki banyak koleksi cerita cerita horor meskipun tidak mengalaminya langsung.
Saat itu hari Kamis atau malam Jumat. Santri Madrasah Ibtidaiyah membaca Maulid Diba bersama di kamar. Tidak seperti mbak santri yang sudah besar, mereka seluruhnya membaca di musala lantai dasar. Kamar kami ada di lantai atas dengan pemandangan pohon di depan tiang musala pondok yang menjulang hingga ke atas. Pondok masih dalam masa pembangunan, sehingga pohon-pohon masih dibiarkan tumbuh di tengah bangunan pondok putri yang berbentuk persegi panjang dan belum benar-benar ditebang.
Menurut cerita, Pak Kiai harus mencarikan tempat baru yang pas untuk penghuninya. Posisi kami waktu itu melingkar memenuhi dinding kamar berbentuk persegi empat. Saya yang duduk bersebelahan dengan seorang kakak kelas yang sangat pendiam, tiba-tiba ketakutan bukan main. Pasalnya, dia tiba-tiba ambruk di samping saya setelah melamun memandang ke arah pohon beberapa lama dan tak mengikuti pembacaan Diba. Semua penghuni kamar refleks mengerumuninya. Saya yang baru pertama kali menyaksikan kejadian seperti ini langsung menjauh karena ketakutan. Jamiyah Maulid Diba kami malam itu bubar seketika.
“Biasa, Nurul iki, dikandani bolak-balik gak ole ngelamun tetep ae! Semaput, kan!” salah satu suara ustadzah membelah kerumunan kami. Beliau meletakkan jari telunjuknya di depan hidung Mbak Nurul yang sedang pingsan. Salah satu teman yang posisinya berada di sekitar kakinya diminta untuk menekan jempol kaki, katanya agar setannya keluar.
Saya takjub. Menekan jempol agar setannya keluar? Saya baru pertama kali mendengarnya. Usaha sudah dilakukan, tetapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya, kami diminta untuk bersama sama membopongnya ke UKP (Unit Kesehatan Pondok) yang ada di lantai dasar. Mbak-mbak santri di musala terlihat penasaran, menoleh pada kami yang ribut menuruni anak tangga.
“Eh, Nurul iki kuru loh! Kok abot seru ya?” salah satu teman yang membopong bagian badan terdengar mengeluh karena beban berat. Usai berhasil menuruni setengah tangga, ternyata teman yang lainnya mengeluhkan hal yang sama. Saya hanya bertanya-tanya di belakang mengikuti mereka, seberat itukah? Bukankah yang dibopong lumayan kurus?
Sesampai di UKP, kami terus mengerumuni Mbak Nurul yang masih belum sadarkan diri. Petugas penjaga UKP menyarankan beberapa di antara kami untuk berbagi tugas, ada yang membacakan ayat kursi, menekan jempol kaki dan jari-jari tangannya, juga mengipasi wajahnya yang terlihat berkeringat. Saya hanya menjadi penonton seperti teman-teman kebanyakan. Salah satu ustadzah kami yang baru datang tergopoh-gopoh sambil membenarkan mukenanya bertanya dengan nada panik, “Sudah dipanggilkan KIai Arifin?”
