Diskusi ini pun menjadi ruang bagi peserta untuk membandingkan kisah masa lalu dalam buku dengan realitas hari ini. Mereka menemukan bahwa kegelisahan manusia Indonesia belum banyak berubah. Isu ketimpangan sosial, krisis identitas, dan kecemasan masa depan masih hadir dalam bentuk baru, terutama di tengah era digital dan krisis ekologis yang makin nyata. Cerita-cerita Arie dinilai tetap hidup, menegaskan bahwa waktu boleh berganti, tetapi luka dan harapan manusia tetap sama.
Rangkaian diskusi buku ini bertujuan menghidupkan kembali semangat berpikir di tengah kehidupan yang serba cepat. Adapun, Haul Sastrawan yang akan menjadi puncak rangkaian kegiatan pada 28 Oktober 2025 di Makara UI (Universitas Indonesia).

Dalam acara puncak tersebut, sastrawan, penyair, budayawan, musisi, dan peserta semaan puisi akan berkumpul untuk menampilkan refleksi mereka dalam bentuk pembacaan puisi, musik, dan dialog kebudayaan. Kegiatan ini diharapkan dapat terus menyalakan semangat literasi dan memperkuat hubungan antargenerasi dalam dunia sastra Indonesia.
Laporan Thariq Aziz dan Kayla Nareswari, Karang Taruna RW 08, Taman Serua.
