Chairil dan Kepeloporannya dalam Berpuisi

Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Yang terampas dan yang terputus

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Modernisme Puisi Indonesia

Menurut Chairil sendiri, sebagaimana ditulis dalam buku Seri Buku Tempo: Chairil Anwar; Bagimu Negeri Menyediakan Api, dijelaskan, dalam tulisannya, “Hoppla!”, Chairil bercerita tentang para seniman yang perlu menjunjung tinggi kebebasan dan siap menghadapi risiko dengan sepenuh hati serta mencela kehidupan yang “anteng” tak bermakna. Ia yakin, kebebasan dan risiko itulah yang akan memberikan makna bagi sang seniman dan sumbangan bagi kemanusiaan,” (hal. viii).

Jadi, Chairil termasuk penganut anti kemapanan, dalam arti bahwa “keantengan” dengan makna khusus yang tidak memberikan manfaat. Sebagai sosok bohemian, orang nomaden yang selalu berpindah-pindah, menjadi dasar mengapa puisi-puisi Chairil menjadi bebas dari segala aspeknya. Nilai modernisme puisi Chairil dibangun atas sikapnya yang menginginkan kebebasan dan kemerdekaan.

Puisi modern adalah jenis puisi yang tidak terlalu terikat kepada ketentuan jumlah baris, suku kata, maupun rima. Bentuk puisi baru lebih bebas bila dibandingkan dengan puisi lama/klasik. Puisi modern terbentuk di dalam masyarakat baru yang telah mengalami akulturasi budaya. Puisi modern masih mempertahankan penggunaan irama, bunyi dan isi di dalam penulisan puisi. Bentuk puisi konvensional yang disesuaikan dengan puisi modern ialah pantun yang menggunakan irama pada baris pertama dan penyampaian pikiran pada dua baris berikutnya.

Saat ini puisi lama sudah berkurang peminatnya. Karena arus puisi modern telah menjelma menjadi biang dengan segala corak dan warnanya. Tetapi kita harus berupaya mempertahankan jenis puisi konvensional itu, karena bagaimanapun jejak puisi itu menjadi bagian dari peradaban dan budaya bangsa. Mempertahankan puisi lama dalam karakternya, dan terus mengembangkan puisi modern dengan beragam progresifnya. Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan