Chromatica: Moksa melalui Warna

Aku ingin menjadi diriku
Sungai yang mengirim suara-suara hutan
Di keliaran gunung yang tak sempat kau kenal
Aku ingin menjadi dirimu
yang membasuh risau kalbu
menjadi hamparan kenangan yang membiru.

Ingatan pada frasa “sungai-sungai” kini tak lagi terpisah dari kesedihan kolektif kita. Dan, benar, sungai dan laut kita merana, dangkal, dan dibiarkan tertimbun sampah proyek atau limbah. Padahal, di masa lalu, sungai adalah nadi peradaban itu sendiri. Ia bukan sekadar saluran air, melainkan jalan raya agung yang menghubungkan kota, jalur diplomasi antar kerajaan, dan urat nadi ekonomi yang membawa komoditas dari hulu ke hilir. Sungai adalah saksi bisu lahir dan runtuhnya sebuah peradaban.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, sungai tak hanya menjadi penentu takdir geografis atau ekonomi. Dalam tradisi spiritual, ia menyimpan ajaran paling tua tentang eksistensi. Dalam ajaran Buddha, air yang mengalir—metafora sungai—adalah perwujudan sempurna dari Anicca (ketidakabadian). Sungai mengajarkan bahwa segala sesuatu, termasuk duka dan kebahagiaan, terus mengalir, tidak pernah sama dari detik ke detik. Mencoba menahan air yang mengalir sama sia-sianya dengan mencoba menghentikan waktu.

Dan di sinilah, ingatan akan frasa “sungai-sungai” itu berbalik ke dalam diri. Sungai yang dimaksud dalam puisi itu mungkin adalah sungai batin, yang kini terasa semakin “keruh.” Keruhnya bukan oleh sampah fisik, melainkan oleh sampah emosi: risau, amarah, dan duka yang tak sempat terbasuh. Duka yang tak sempat  dituang.

Saya juga teringat ucapan Bli Can di Studio Arcana, “Saya intens melukis setelah anakku meninggal di Jogja tahun 2023. Aku berduka.” Kalimat itu mengguncang keheningan dalam diri saya. Sebab siapa yang tidak menampung duka? Siapa yang tidak mencari cahaya dari serpihan yang hilang? Namun, hanya sedikit orang yang berani mengubah duka menjadi daya, dan daya menjadi cahaya.

Bli Can kemudian memilih jalan itu, padahal, sebagai wartawan, bermula dan datang dari dunia huruf dan logika berita, dari ide-ide puitik, diksi-diksi dan metafora dalam puisi, cerita pendek, dan novel — dunia yang terbiasa mengukur dan menimbang— tapi tiba-tiba, Bli Can lepaskan pena dan menggantinya dengan cat, air, dan kanvas. Dalam garis dan warna itulah, kata-kata menjelma warna hidup. Di sanalah saya paham: kadang, bahasa tak lagi cukup untuk menampung kebenaran yang lahir dari kehilangan.

Saya membayangkan Bli Can duduk di depan kanvas kosong, tangan gemetar saat menuang warna. Saya tahu getar itu: bukan gugup, tapi pengakuan bahwa tangan manusia hanyalah alat semesta. Dalam Chromatica, warna tidak patuh pada garis; ia hidup, ia menolak dinding. Dibiarkannya air dan api beradu, seperti dua sisi Rwa Bhineda—terang dan gelap, bahagia dan kehilangan, daging dan roh. Lukisan Bli Can ini harus didengarkan dengan napas, bukan dibaca dengan teori.

Saya melihat seri Mysterious Garden sebagai taman rahasia tempat para arwah menari di antara kelopak. Kupu-kupu yang hinggap di atas cat yang belum kering itu adalah utusan dari dunia niskala—dunia halus tempat yang pergi tak pernah benar-benar hilang. Bli Can telah mengubah kehilangan menjadi komunikasi, duka menjadi percakapan antara dua dunia.

Saya bayangkan di ruang The Dharmawangsa yang sunyi — tempat pameran karya-karya lukisan itu,  pengunjung datang dengan niat melihat warna, tapi mereka pulang membawa renungan. Mungkin di antara mereka tidak tahu bahwa di balik kilau warna cat, ada upacara kecil yang sedang berlangsung: upacara penyembuhan jiwa. Sang pelukisnya tidak sedang memamerkan karya, tapi sedang menggelar melukat —ritual pemurnian yang dilakukan dengan warna.

Lalu, di tengah keheningan ruang galeri itu, saya jadi teringat, hari itu, 21 Agustus 2025, Bli Can menelepon, meminta saya  membacakan puisi dalam pagelaran penutupan pameran di ruang The Dharmawangsa. Tapi saya tidak bisa hadir, karena sedang berada di Tebuireng, Jombang. Perasaan bersalah karena tak bisa datang di hari terakhir pameran itu sempat menjerat pikiran, beruntung sebelumnya saya telah melihat beberapa lukisan itu di Studio Arcana.

Tinggalkan Balasan