“Loh kan aku pacarannya wajar Kang.”
“Iya, tapi ini kan masih lingkup desa. Mbok ya yang santun. Apalagi statusmu sekarang ustaz,” Kang Oce mencoba menjelaskan.

Mas Sot menyulut kembali rokoknya. Mereka masih bertukar argumen. Aku masih mengunyah keripik kentang.
“Gini lo Cek. Semua kan ada batasnya. Asal kamu tahu batasmu, kami sebagai kawan tak akan mengusik.”
Si Cek hanya mengiyakan, tak berani menjawab lagi.
Keesokan harinya aku dipanggil Mas Sot. Disuruhnya aku menjemput di depan pondok seusai mengaji. Lantas, kami memasang helm masing-masing tanpa kutahu akan ke mana.
Sepersekian menit selanjutnya. Dari kejauhan Mas Sot melihat sesuatu. Dia menghentikan langkahnya sejenak. Dan ternyata Cek dengan pacarnya lewat depan kami. Dengan senyum menyapa tanpa perasaan bersalah atas janjinya malam tadi.
Mas Sot terdiam, tapi ada bara di matanya. “Aku seperti dikencingi tepat di depan mukaku.” Kami menggeber motor pada kecepatan sedang. Pada dua jam kemudian kami sampai.
Aku hanya terpana. Itu adalah kompleks pondok putri.
“Kita ngapain di sini?”
Senyum kecil Mas Sot menghias wajahnya. Kami membawa beberapa barang dari sana. Dalam perjalanan Mas Sot menyampaikan segala kekesalannya tentang si Cek.
Mas Sot tak pernah langsung melampiaskan amarahnya. Sama juga seperti kisah cintanya, sama-sama rahasia.
“Bagiku jika aku memang mencintai sesuatu, maka cinta itu untukku, tak ada yang boleh tahu. Ya menurut Rumi begitu,” kelakarnya. Kami sampai di rumah. Barang-barang itu turun di teras Mas Sot. Aku pamit pulang.
Hari berikutnya kami kembali kumpul di tongkrongan. Bruuakk… Si Cek masuk dengan muka tampak kusam. Kami hanya melirik satu sama lain. Dan semua tampak diam. Si Cek mencoba meluapkan kegalauan. Namun kami tak hirau.
Lantas Mas Sot membuka pintu. “Lah ngapain diem-dieman… Nih jajan.”
Semua anak tongkrongan terpana. Ada berbagai jajan yang umumnya ada di pernikahan, atau lamaran.
“Mas ini siapa yang nikah?” tanya Cak Bag.
Lalu Mas Sot mengangkat jarinya dan ada cincin melingkar di jari manisnya.
