Cirebon, 23 Jam Kemudian…

Kami tak benar-benar tahu alasan paling rasional mengapa harus ke Cirebon. Namun, kami meyakini bahwa perjalanan ini berkait erat dengan agenda Tafsir Ar-Razi, dengan guru yang mengampunya, dan dengan tanah kelahiran sang kiai. Dalam tradisi santri, relasi antara ilmu, guru, dan tempat asal bukan sekadar urusan geografis atau penanda administratif, melainkan ikatan batin yang hidup dan bekerja secara spiritual. Ilmu tidak lahir di ruang hampa, tetapi tumbuh dari keberkahan perjumpaan dengan guru, dari adab yang diwariskan, dan dari tanah tempat doa-doa pertama kali dipanjatkan. Karena itu, menelusuri tempat asal seorang kiai bukan semata-mata perjalanan fisik, melainkan upaya menyambung sanad—menyapa jejak langkah, menyerap laku hidup, dan merawat ingatan kolektif agar ilmu tidak tercerabut dari akar etika dan kebijaksanaan yang melahirkannya.

Pukul 07.30 kami memasuki Desa Gedongan. Tujuan kami bukan langsung ke pesantren, melainkan ke makam KH Muhammad Said—leluhur dan mata air keilmuan Gedongan. Jalan menuju desa itu lengang. Sejak memasuki kawasan Gedongan, pesantren-pesantren tampak berdiri berhadap-hadapan di kanan dan kiri jalan. Beberapa santri melintas menuju sekolah; sebagian lain mengintip diam-diam dari balik jendela kamar, seolah ingin tahu siapa tamu pagi itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah memarkir mobil, kami berjalan pelan menuju area makam. Udara pagi menyapa dengan aroma sawah yang basah, bercampur samar dengan bau laut yang dibawa angin dari kejauhan. Langkah kami terasa ringan namun batin justru penuh, berada di antara percaya dan tak percaya—bahwa perjalanan yang berangkat dari obrolan santai, dari niat yang nyaris tanpa rencana, kini sungguh-sungguh menjejak Cirebon, tanah yang selama ini hanya hidup dalam ingatan, cerita, dan sebutan-sebutan penuh hormat.

Gerbang makam menyambut kami dengan kesederhanaan yang sarat sejarah. Ketika kami berada di dalam area makam, seorang lelaki berusia lima puluh tahunan tiba-tiba berlari kecil dari balik dinding kamar mandi. Ia mengenakan celana pendek dan kaus bergambar presiden dan wakil presiden—gambar yang di banyak tempat sering memantik perdebatan, namun pada tubuhnya seolah kehilangan daya simboliknya. kang Jamal yang ketika itu hendak menuju kamar mandi berhenti sejenak; lelaki itu menghampirinya dengan senyum tulus, lalu mempersilakan sastrawan yang juga mengeditori buku-buku keagamaan itu masuk lebih dahulu.

Tak lama berselang, Kang Jamal kembali menghampiri kami yang sudah berdiri di ambang gapura putih bertuliskan “Makam KH. Moh. Sa’id – Sesepuh Pesantren Gedongan.” Gapura itu berdiri tenang dengan ornamen hijau pucat yang mulai memudar, seolah menandai usia panjang dan ketekunan waktu. Jalan beton sempit memanjang ke dalam, diapit rumah warga dan pagar seng. Suasana lengang; hanya bendera Merah Putih yang berkibar di kejauhan, menautkan ruang spiritual pesantren dengan kesadaran kebangsaan.

Makam KH Muhammad Sa’id dan dzuriyah berada dalam sebuah pendopo terbuka beratap seng, ditopang rangka besi berwarna hijau toska yang mulai kusam dimakan waktu. Di dalamnya, nisan-nisan tersusun rapi dan bersahaja; sebagian dilapisi kain putih sebagai penanda penghormatan dan perawatan yang terus dijaga. Tirai-tirai kain yang menggantung di sekeliling pendopo meredam cahaya dan suara dari luar, menghadirkan kesan teduh sekaligus sakral, sementara pepohonan yang mengitari kawasan makam memperkuat suasana hening dan kontemplatif, seolah mengajak setiap peziarah menurunkan suara batin sebelum melangkah lebih jauh.

Ketika Kang Jamal mulai memimpin tawasul di dekat makam, langit yang semula cerah perlahan menggelap. Awan berkumpul tanpa tanda, lalu hujan turun deras, membasahi atap seng dan halaman makam. Kami tetap melanjutkan bacaan Yasin dan doa, membiarkan suara hujan berpadu dengan ayat-ayat yang dilafalkan pelan. Dalam tradisi ziarah, hujan kerap dimaknai sebagai rahmat—sebuah tanda sambutan, seakan alam turut mengamini kedatangan dan niat yang kami bawa.

Usai berdoa, kami kembali disambut oleh lelaki bercelana pendek itu. Dengan gestur apa adanya, ia menawarkan kopi. Saya menyambut tawaran itu dengan antusias, bahkan spontan memesan dua gelas. Ia tersenyum tulus, lalu menjawab pelan, seolah tak ingin mengecewakan, “Saya tidak jualan kopi, Pak. Saya cuma punya satu set kopi. Itu pun kopi sisa semalam.” Kami tertawa kecil, lalu menyesap kopi yang disuguhkan dengan penuh syukur—kopi yang terasa hangat bukan semata karena rasanya, melainkan karena ketulusan yang menyertainya.

Setelah menyuguhkan kopi, lelaki itu pergi meninggalkan kami yang sedang berkumpul dan membicarakan rencana perjalanan berikutnya. Tak lama kemudian, saya melihatnya kembali—kini mengepel lantai area makam Kiai Muhammad Sa’id, bekerja tanpa suara, tanpa ingin dilihat. Pada saat itulah saya menyadari: kaus bergambar presiden dan wakil presiden itu sama sekali tidak menjadikannya representasi politik apa pun. Ia justru tampak sebagai wajah paling jujur dari etika pesantren—khidmah yang tidak meminta panggung.

Sementara itu, tiba-tiba terlintas kuat bayangan sahabat kami, Acep Zamzam Noor, penyair nasional yang lahir dan besar di lingkungan pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Benar saja, rupanya ingatan itu terkoneksi dengannya, karena tidak lama kemudian ia menelepon dan tanpa ditanya langsung menyarankan agar kami melanjutkan ziarah ke Pesantren Babakan Ciwaringin—pesantren tertua dan terluas di Cirebon—tempat bernaung sastrawan Ahmad Baequni dan Nyai Masriyah. Kami tertegun. Padahal, bahkan Chandra yang mengajak ke Cirebon pun tak tahu ke mana arah perjalanan ini akan bercabang.

Sejak di Gedongan, agenda seolah bergerak sendiri: ke Buntet Pesantren dengan sejarah panjangnya sebagai pusat pendidikan dan perlawanan kultural santri; berziarah ke Sunan Gunung Jati sebagai simpul awal Islam Cirebon; hingga akhirnya menuju Babakan Ciwaringin. Setiap perpindahan seperti ditandai hujan yang datang dan pergi—seakan alam ikut memberi isyarat, mengantar langkah kami dari satu simpul spiritual ke simpul spiritual berikutnya.

Tinggalkan Balasan