Sesampainya di Babakan, gerimis kembali menyambut. Kami diterima Kiai Ahmad Baequni di ruang tamu Pesantren Assolihah. Ia menyambut kami tanpa jarak yang kaku. Tutur katanya tenang, matanya hidup, dan caranya mendengarkan membuat setiap orang merasa diterima. Ia tidak tergesa-gesa menyimpulkan, tidak pula memotong cerita. Dalam setiap kisah yang ia sampaikan, ada jeda yang memberi ruang—seolah ia ingin memastikan bahwa ilmu tidak datang sebagai palu, melainkan sebagai pintu yang dibuka perlahan.
Hujan tak juga reda. Entah bagaimana semesta dengan indah mempertemukan kami—yang semula tidak saling mengenal—kami tiba-tiba larut dalam percakapan panjang yang mengalir: dari sastra hingga kisah wali pertama Babakan, yang makamnya justru tak ingin dikenal dan tak ingin dirawat. “Kami pernah kedatangan utusan Gus Dur,” kata Kiai Baequni, “yang diminta mencari makam wali pertama itu.”

Kiai Baequni lalu mulai bercerita lebih jauh. Tentang delapan puluh lima pesantren yang membentuk Babakan Ciwaringin, tentang Babakan yang berdiri sejak 1705, tentang Ki Jatira—pengembara yang membangun musala kecil di tanah kering dan menjadikannya benteng ilmu, pengabdian, dan perlawanan. Namun kisah itu tidak berhenti pada masa lampau. Ia bergerak mendekat ke tahun-tahun yang lebih baru, ketika Babakan kembali diuji oleh zaman.
Sekitar tahun 2006 hingga 2010, katanya, Babakan pernah berada dalam kegelisahan panjang. Pemerintah merencanakan pembangunan jalan tol yang rutenya akan membelah kawasan pesantren. Peta-peta dibentangkan, garis-garis ditarik lurus di atas kertas, tanpa sepenuhnya mempertimbangkan bahwa di atas tanah itu hidup puluhan pesantren, ribuan santri, dan tradisi yang dibangun berabad-abad. “Bagi mereka,” kata Baequni, “itu cuma jalur. Bagi kami, itu urat nadi.”
Penolakan pun muncul. Santri-santri turun ke jalan, masyarakat berkumpul, para kiai bermusyawarah. Bukan dengan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan dengan keteguhan yang sabar. Spanduk-spanduk penolakan pernah berdiri di sudut-sudut kampung. Doa-doa dibaca, surat-surat dikirim, pertemuan demi pertemuan dijalani. Di dalamnya tentu ada dinamika: perbedaan pendapat, rasa lelah, juga kekhawatiran akan masa depan. Namun satu hal menyatukan mereka—keyakinan bahwa pesantren bukan sekadar bangunan yang bisa dipotong oleh jalan raya.
“Kalau jalan itu jadi,” Kiai Baequni melanjutkan, “santri-santri akan terbelah. Bukan cuma secara fisik, tapi juga batin.” Ia bercerita bagaimana para masyayikh memilih berdiri bersama santri dan warga, menjaga Babakan agar tetap utuh sebagai ruang belajar dan ruang hidup. Penolakan itu bukan semata-mata sikap politik, melainkan ikhtiar spiritual: menjaga amanah para pendiri pesantren.
Kami mendengarkan kisah itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sejarah yang diceritakan Kiai Baequni tidak terasa sebagai catatan kering, melainkan sebagai gema yang hidup. Saya kembali teringat lelaki bercelana pendek di Gedongan—yang bekerja dalam sunyi, tanpa kata-kata besar—dan tiba-tiba saya mengerti bahwa keduanya sedang mengajarkan hal yang sama, hanya dari arah yang berbeda.
Di tengah hujan yang kembali turun, Kiai Baequni menutup ceritanya dengan nada yang berbeda. Ia berkata pelan, seolah sedang membaca sesuatu yang tak kasatmata. “Karena ini hujan, semacam isyarah, agar kalian kembali lagi ke sini. Namun untuk membatalkan niat berziarah, mari kita bertawasul dari sini.”
Kami terdiam. Dalam hati, kami mengerti bahwa perjalanan ini memang bukan sekadar berpindah dari Gedongan ke Babakan. Perjalanan ini adalah pelajaran tentang petunjuk spiritual yang bekerja pelan-pelan, tentang bagaimana kegelisahan dijawab bukan dengan tergesa, melainkan dengan kesediaan mendengar jejak orang-orang yang memilih tabayyun agar umat tidak kehilangan arah. Ketika mengantar kami pulang, Kiai Baequni berpesan agar kami datang lagi, menyempurnakan niat ziarah, spiritual journey.
Cirebon-Jakarta PP, Desember 2025.
