Cokelat Ramadan

“Besok dia akan kemari menjemputmu,” kata Asmad, ayahku

“Kau pasti bahagia bersamanya, Nak,”.tambahnya. Pembicaraan berhenti ketika bel berbunyi. Aku keluar ruang tamu dan masuk kelas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di kelas semua temanku berebut tanya. Mereka ingin tahu keputusanku. Aku tidak menjawab pertanyaan mereka yang semuanya sama. Ustazah datang dan mesem-mesem padaku. Ia menyuruhku keluar agar menemui tamuku di ruang tamu. Teman-teman kelas menyorak, “Tuan putri, tuan putri, jangan lupa kembali.”

***
Setelah beberapa hari berpikir, aku memutuskan untuk menulis surat balasan untuk si pangeran. Pada akhir surat aku bubuhkan tanda tangan serta namaku di bawahnya. Lalu kulipat dan kutulis nama si pangeran di sisi atas.
Surat itu kutitipkan pada khodim di dapur. Ia sering dititipi surat oleh teman kamarku. Sehingga ia paham betul maksudku berdiri di pintu dapur sambil berdecak.

“Tunggu barang seminggu kekasihmu akan mengirim balasan,” katanya sembari memasukkan surat itu ke dalam saku.

Benar. Tidak lama dari itu setelah sepuluh hari menunggu surat balasan kuterima. Bukan hanya surat yang berisi puisi melainkan satu potong cokelat. Tiba-tiba dadaku bergolak sangat cepat, jemari gemetar saat membuka kulit coklat. Beginikah rasanya? Kami saling mengirim surat, dan dia membalas dengan cokelat pula gambar hati. Begitu seterusnya sampai satu hari di bulan Muharam, aku menunggu di balik jendela menantikan surat darinya.

Namun sesuatu terjadi setelah aku mendapat surat dan coklat yang ke empat kalinya. Semua santri disuruh keluar dan berbaris di depan asrama. Kami tidak boleh memakai sendal. Di sana kami benar-benar dijemur oleh terik. Sementara beberapa ustazah hilir mudik masuk kamar. Membongkar rak kitab dan menggeladah lemari. Kamar menjadi berantakan tak seperti kamar perempuan.
Sesaat ustazah keluar dari masing-masing kamar membawa selembar kertas. Lalu ustazah di depan kami mulai berkata dengan lantang.

“Mulai saat ini tidak ada lagi santriwati yang mengirim surat pada santri putra. Apa pun statusnya, kakak, adik, sepupu. Ketetapan ini berlaku sampai kalian lulus…,” kami diam. “Mengerti?” kami mengangguk tapi aku diam-diam aku menggeleng.

Asrama putri benar-benar menjadi kastil. Aku selalu saja menunggu di balik jendela kamar, dan membayangkan seekor burung mengantarkan surat padaku. Lalu ia akan pergi membawa surat balasanku. Tapi nyatanya tidak ada. Tidak ada surat, tidak ada coklat. Bahkan di bulan Muharam.

***
“Besok ayah dan calonmu datang menjemput. Pastikan pakaianmu sudah berada di tas,” kata ayah yang pulang bersama adikku. Tak ada yang perlu kukhawatirkan semuanya akan baik-baik saja. Dan aku masih percaya pangeran akan datang eok pagi sebelum ayah menjemput. Lalu mereka akan terkejut tidak menemukanku di kamar.

Apakah itu konyol? Kurasa tidak, karena seseoang berhak berkhayal. Apalagi perempuan sepertiku, mengkhayal menyelamatkanku dari keterpurukan. Namun kenyataan tidak bisa ditolak, semua terjadi dan aku masih menunggu di balik jendela kamar berharap pangeran datang menjemput.

Tinggalkan Balasan