Malam larut begitu cepat. Aku sudah lupa bagaimana bulan tengkurap di sana. Fajar datang, dan aku masih berjaga di balik jendela kamar. Aku tidak perlu ke mana-mana bahkan pada pria yang tidak kukenal dan kini melamarku secepat itu. Aku tak berhasrat padanya. Aku bahkan tak mengenal tulisannya. Dia pun tak pernah mengirim coklat saat Asyura.
Yang mengejutkanku pagi ini. Seseorang, lelaki tampan yang tidak kukenal menungguku di ruang tamu. Dan saat bertemu, ia berdiri dan menjulurkan sepotong coklat padaku.

***
“Aku Ramadhan, senang bertemu denganmu, Fatimah.” Aku diam. Sesaat mataku menyapu matanya.
“Kenapa kau bisa tahu namaku?”
Lelaki itu tersenyum dan tampak lesung pipinya.
“Maaf, sepertinya aku salah orang. Permisi,” lelaki itu beranjak pergi namun berhenti di depan pintu keluar.
“Apa kau lelaki itu?”
Lelaki itu menoleh. Tersenyum lagi.
“Kalau kau hanya mengharap cokelatku, aku sudah berikan yang kau mau. Tapi sepertinya aku salah orang. Permisi.”
Pangeran itu benar datang ke kastil. Ia tidak kukenal namun ia mengenalku lebih dari diriku sendiri. Sebelum ia benar-benar pergi, aku mengejarnya, melompati pintu, tidak tahu, kakiku begitu ringan sampai aku bisa meraih pundaknya. Ia menoleh dan aku kembali menyapu matanya yang tenang. Ia tersenyum, dan aku pun tersenyum. Beberapa santri melihat kami. Aku tak peduli. Lalu terdengar suara yang begitu kukenal.
“Sebentar lagi kalian akan sah menjadi suami-istri.”
