Seiring dengan makin banyaknya santri, baik putra maupun putri, Pesantren Dar el-Hikam juga banyak mengalami perkembangan signifikan, baik dari segi bangunan maupun sarana belajar di pondok. Misalnya, pada 2007, mulai dibangun gedung baru dua lokal sehingga tergolang layak sebagai tempat santri mukim.
Di samping itu pondok ini, juga memiliki sebuah musala yang digunakan selain sebagai tempat salat juga berfungsi sebagai tempat belajar santri dan kegiatan majelis taklim ibu-ibu. Di pesantren ini kini terdapat tiga buah gedung asrama santri putra, sebuah gedung asrama santri putri dua lantai, dua buah gedung sekretariat, satu buah gedung TPA, dan lahan pertanian sekitar 1000 meter persegi, dan sebuah empang peternakan ikan lele.

Yang tergolong khas dari Daar el-Hikam ini adalah tetap mempertahankan tradisi pesantren salaf, dengan pengajian kitab-kitab kuning. Dan itulah yang membuat saya tertarik untuk mondok di sana bukan hanya soal lokasi, tapi kultur pesantren yang begitu kental dengan keIslaman Nusantara. Di tengah modernitas kota Metropolitan, Daar El-Hikam berdiri teguh dengan sistem pendidikan salaf, melestarikan kitab kuning, belajar ilmu tasawuf, serta tradisi-tradisi pesantren kampung yang masih hidup.
Melestarikan Kitab Kuning
Pondok pesantren sering diidentikan dengan belajar kitab kuning. Sebuah rujukan keilmuan dengan bahasa arab, ditulis oleh ulama terdahulu, pembahasan yang berbeda, serta sanad keilmuan yang jelas menjadi ciri khas belajar di pondok pesantren.
Meskipun pondok pesantren Daar El-Hikam berada ditengah-tengah kota modern, tapi secara sistem pembelajaran tidak pernah mengesampingkan rujukan dari kitab-kitab kuning. Bahkan tradisi atau sistem pembelajaran seperti bandungan dan sorogan masih bisa ditemukan di sini.
