Beberapa kitab yang dipelajari di pondok pesantren Daar El-Hikam seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Tafsir Munir karya Syekh Nawawi, Alfiyah Ibnu Malik karya Syekh Ibnu Malik, dan masih banyak kitab-kitab lain yang dipelajari di pondok pesantren ini.
Selain kitab kuning, tradisi-tradisi seperti tahlilan, ratib al haddad, yasinan, ziarah kubur hingga pasaran masih kental dan terus dilaksanakan oleh santri di Pondok Pesantren Daar El-Hikam. Di tengah gempuran modernitas, Daar el-hikam berhasil menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi pesantren salaf dengan kokoh dan menjadi pondasi awal untuk santri-santrinya dalam menghadapi perubahan zaman dari segi sosial dan teknologi.

Transformasi Salaf ke Modern
Untuk menjawab tantangan zaman, Pondok Pesantren Daar El-Hikam melakukan transformasi dengan menerapkan sistem pendidikan formal dalam bentuk sekolah menengah pertama dan menengah atas. Tepatnya pada tahun 2016, selain santri yang berstatus mahasiswa, Daar El-Hikam mulai menerima santri untuk kelas menengah pertama (SMP).
Hal ini bukan tanpa sebab, saat itu, saya dan beberapa santri senior lainnya, melakukan musyawarah dengan KH Bahrudin sebagai pimpinan pesantren mengenai situasi dan kondisi masyarakat khususnya anak-anak di sekitar pesantren Daar El-Hikam. Hingga kami mendapat satu kesimpulan bahwa pesantren harus bisa melebarkan sayap pendidikan pada jenjang yang berbeda demi menyelamatkan generasi-generasi muda, khususnya di sekitar pondok pesantren Daar El-Hikam.
Meskipun transformasi pendidikan pesantren berubah menjadi semi atau modern, tapi pembelajaran kitab-kitab kuning, kultur yang sudah ada sebelumnya, hingga budaya-budaya pesantren salaf tidak dihilangkan. Artinya, hanya ada penambahan secara sistem dan pendidikan pada tingkat menengah pertama dan menengah atas.
