Artikel ini berusaha memahami bahwa tampilan dai perempuan meski diyakini sebagai bagian dari praktik keagamaan, ternyata juga mampu memberikan gambaran bahwa posisi dai perempuan yang mengambil jalan virtual ternyata juga harus menghadapi terjalnya jalan dakwah di ruang virtual ini. Karena itulah media digital tidak hanya dipahami dalam konteks conduits atau sebagai sarana dakwah saja, akan tetapi juga harus dipahami sebagai lingkungan baru yang sedang tercipta, bahkan di dalamnya penuh dengan dinamika dalam membangun interkasi.
Praktik Keagamaan

Praktik keagamaan yang diperankan oleh para dai perempuan di ruang virtual ini diyakini sebagai perluasan jangkauan sasaran dakwah. Maka menjadi benar jika dipahami bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi hari ini mampu memberikan layanan pengembangan keagamaan termasuk dalam praktik keagamaan yang diperankan oleh para Dai perempuan.
Dipahami bahwa pelaksanaan dakwah sendiri harus dijalankan untuk menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana pernah ditegaskan oleh Nasaruddin Latif (2021) bahwa dakwah merupakan bagian dari aktivitas dengan lisan atau tulisan yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan mematuhi Allah SWT sesuai dengan garis akidah dan syariat serta akhlak Islamiyah.
Karena itulah tampilan ceramah agama yang diperankan oleh para dai perempuan di sejumlah platform media sosial, seperti twitter, facebook, instagram, maupun channel youtube, sangat memberikan warna tersediri dalam perjalanan dakwah di Indonesia saat ini.
Selain itu, juga bisa memberikan penegasan bahwa aktivisme dakwah tidak hanya bisa diperankan oleh para dai lki-laki saja.
Dapat dilihat bagaimana konten-konten ceramah agama yang diperankan oleh dai perempuan mewarnai pada banyak platform media sosial. Sebut saja ceramah agama yang disampikan oleh Ning Umi Laila, Ustazah Syifa Nurfadhilah, Ustazah Liza Azizah, Ustazah Mumpuni Handayayekti, serta beberapa dai perempuan lainnya ternyata mampu mendapat perhatian masyarakat, bahkan banyak mewarnai corak aktivisme dakwah di jagat virtual.
Pemanfaatan teknologi internet sebagai ruang baru dalam praktik keagamaan seolah sedang mempermudah bagi para dai dalam menyebarluaskan pesan dakwahnya ke berbagai penjuru dunia.
