Katakanlah stoikisme mengajari kita untuk tidak larut dalam kesedihan, masa bodoh pada stigma, tidak ikut campur urusan orang, serta love self sebagai yang paling penting. Sehingga pertanyaannya adalah: “Apa amar makruf nahi mungkar akan disfungsi?”
Memang terbayang dan masuk akal jika tren stoa ini di masa depan akan menjadikan dakwah tidak sebagaimana biasa kita jumpai di acara-acara masyarakat, kajian, dan lainnya. Jika, peduli akan buruknya akhirat orang lain justru nanti akan menjadi pelanggaran etika? Atau, barangkali kekhawatiran itu hanya alibi dari pembiakan dakwah yang marah?

Justru stoikisme bagi saya dapat meminimalisasi pembiakan ekstremis dan radikalis agama. Bahkan, eksistensinya di tengah muda mudi akan mendorong diterapkannya asas-asas moderasi.
Tentu dengan beberapa hal. Pertama, dengan tidak menilai stoikisme sebagai ajaran berbahaya. Sebab, sikap indifferent stoa itu ditujukan untuk membatasi hasrat, emosi negatif, dan keputusan yang tidak logis, bukan semata-mata kebebasan liar meski bertumpu pada hukum alam sebagai tatanan logisnya (ERL. Tinambunan 2014: 33).
