Salah satu yang cukup penting untuk dilakukan saat ini adalah turut berperan di dunia digital. Sebagai orang yang tidak bisa lepas dari media sosial, saya cukup sering menemukan akun-akun dakwah keIslaman yang tampaknya kurang relevan di tengah masyarakat Indonesia yang plural.
Misalnya akun-akun dakwah Islam konservatif dan ekstrem. Saya menebak, ada puluhan bahkan ratusan akun di berbagai macam platform media sosial dengan pola konten yang cukup menarik.

Sesekali saya iseng melihat beberapa akun dakwah Islam ekstrem yang sangat gampang mengharamkan sesuatu. Tidak hanya mengunjungi profil, saya mencari tahu lebih dalam dengan melihat konten konten akun tersebut hingga akhir atau konten pertama yang mereka unggah.
Keisengan saya tak sampai di situ. Saya mencoba mencari konten yang awareness dan engagement-nya cukup tinggi, lalu saya baca komentar-komentar di dalamnya. Cukup mengejutkan, banyak komentar yang mendukung dan merasa bahwa konten yang diunggah adalah sebuah kebenaran mutlak dalam agama.
Hal itu tidak saya lakukan sekali, tapi beberapa kali untuk melihat bagaimana cara akun-akun keislaman yang kurang relevan di Indonesia menyebarkan pemahaman dan dakwah mereka via media sosial.
Alhasil, saya memiliki hipotesis bahwa mereka menerapkan content strategy dengan pola soft selling, hard selling, storytelling, informatics, hingga quotes. Sebagai seorang content planner media sosial, jelas strategi ini sering saya temukan di banyak akun khususnya akun bisnis.
Mulai dari konten informatif, motivasi berbentuk potongan ceramah, ajakan untuk ikut kajian mereka dengan cara menyentuh sisi emosional audiens, hingga ajakan yang benar-benar hard selling atau secara gamblang.
