Dan Sepatu pun Menertawakanku

“Kadang-kadang aku masih ikut terjun ke sawah juga Jun,” jawabnya enteng. Suasana menjadi semakin gerah karena banyaknya lalu-lalang orang.

“Jadi, kemari kamu ngantar siapa? Putranya Kiai Salman?” pertanyaanku berikutnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Iya,” dia menjawab singkat.

“Siapa?”

“Amalia, Jun. Masih ingat? Ning Lia itu, loh. Putri kiai yang ketiga,” kali ini jawaban Hakim tidak disertai tawa lagi. Mungkin dia merasa alur hidupnya terlalu datar. Sedari kecil dia mengabdi bahkan hingga tua begini. Kalau saja dulu dia mau sedikit lebih rajin dalam belajar mungkin masa depannya tak akan semuram ini. Kalaupun dia punya bekal ilmu mungkin kini dia sudah bisa berkeluarga dan kehidupannya akan lebih baik. Aku masih sangat ingat. Dulu ketika dia diminta untuk belajar, kesibukannya di ndalem kiai selalu alasan tak ikut ngaji. Pantas saja sampai sekarang hidupnya masih seperti ini. Nasib memang tak pernah menghianati usaha. Di pondokku dulu memang terdapat beberapa santri yang sampai di usia tuanya tetap tinggal di pesantren. Dan ternyata Hakim meneruskan tradisi itu.

Aku lantas menyahut ucapannya setelah beberapa saat bengong. “Owh, Ning Amalia itu. Dulu ketika aku masih nyantri di sana dia masih kecil. Anaknya kuliah jurusan apa? Wisuda juga hari ini?” rasa penasaran  tentang keluarga pesantrenku tatkala aku masih duduk di bangku SMA itu semakin menjalar di pikiran. Dulu aku nikah memang agak telat, pantas saja anak pertamaku seusia dengan anaknya Ning Amalia yang usianya jauh di bawahku.

“Jurusan kedokteran, Jun,” Hakim menjawab.

“Dokter? Wah, pantas saja ya, cucunya Kiai Salman. Tapi kalau kuliah kedokteran bagaimana dengan pesantrennya? Apa dia sempat ngaji ilmu-ilmu alat? Ilmu fikih? Balaghoh? Bayan? Usul fikih? Wah pasti nggak kopen pondoknya,” sahutku antara salut dan prihatin.

“Alhamdulillah, hafalan Quran-nya telah selesai semasa di Aliyah dulu. Ilmu alat dan kitabnya juga nggak ketinggalan,” Hakim menimpali.

“Wah, pantas saja ya, cucunya Kiai Salman. Eh, kamu kok bisa tahu?” rasa penasaranku belum juga kunjung memudar.

“Kan abdi ndalem? Ning Lia di kamar mandi pun aku tahu!”

Tawa kami pun meledak.

Detik berikutnya aku berpamitan untuk mengikuti acara wisuda anakku di dalam gedung. Sebelumnya kami sempat saling bertukar nomer HP. Sambil berjalan aku masih memikirkan Si Hakim. Dia tidak banyak berubah. Kalaupun ada yang berubah itu adalah sikapnya yang sudah tidak pemalu lagi seperti dulu, bahkan dia sekarang berani menggunjingkan putri Kiai Salman.

Dan aku pun terus melangkah ke pusat acara. Gedung tempat pelaksanaan wisuda penuh dengan gegap gempita. Meriah sekali. Jumlah wisudawan ada ribuan membuat kami harus menunggu berjam-jam. Kulihat istriku masih tampak semangat mengikuti jalannya prosesi wisuda. Sedangkan, aku sedang berjuang menahan kantuk. Anak-anakku malah sudah tertidur dari tadi.

“Pak, bangun, Pak,” tepukan tangan dan suara keras istriku di ujung telinga serta merta mengagetkanku.

Aku tergeragap bangun. Mataku masih terasa berat sekali untuk kubuka. “Kenapa sih, Bune?” tanyaku setengah jengkel. “Haraz sudah dipanggil ke depan?” tanyaku pula. Kukucek mataku.

“Ini Si Haraz WA Ibu, katanya sepatunya rusak. Sol sepatunya lepas!” ucap istriku dengan raut paniknya. Kantukku langsung hilang. Tak ingin aku mengantuk, tapi tak begini caranya, Tuhan.

“Kok bisa?” ucapku spontan. “Terus piye iki?” gumamku kebingungan.

“Belikan lem, mumpung belum waktunya maju.”

“Beli lem bagaimana? Ruangan penuh sesak begini. Di luar juga ramai, tak tahu tempat belinya pula. Nggak bisa keluar Bune,” sahutku dengan pikiran tidak karuan.

“Coba minta tolong Mas Marwan tadi,” sarannya.

Aku segera menghubungi Marwan. Sial. Pulsaku tidak cukup. Pulsa istriku juga tidak ada. Ketika aku mengiriminya pesan WA ternyata centang satu. Semuanya terasa kacau. Kami sangat bingung.

“Gimana, Pak?” tanyanya lagi. Tak kujawab, kepalaku sedang didera rasa bingung dan kepanikan yang luar biasa.

Tiba-tiba aku teringat pada Hakim, temanku yang walaupun bodoh itu punya hati yang putih. Dia pasti mau membantuku. Segera kucari nomernya di HP-ku. Alhamdulillah, ada nomer WA-nya. Aku segera mengiriminya pesan WA. Beberapa detik berikutnya dia telah membaca pesan WA-ku. Alhamdulillah, masih ada harapan.

One Reply to “Dan Sepatu pun Menertawakanku”

Tinggalkan Balasan