Dan Sepatu pun Menertawakanku

Beberapa menit kemudian HP di sakuku bergetar. Segera aku membukanya. Dan ternyata kabar buruk. Hakim tidak bisa menolongku karena suasana sedang ramai sekali sehingga dia tidak bisa keluar. Aku mengelus dada disertai sumpah serapah dan keluh-kesah. Istriku semakin tampak panik, menyalahkanku yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan hari istimewa anaknya.

“Bagaimana kalau Haraz memakai sepatuku ini? Tidak begitu jelek bukan?” tiba-tiba aku punya akal untuk menyiasati keadaan. Sepatu pantofel ketika aku masih menjadi guru itu menurutku masih bagus. Dulu aku memang sempat menjadi guru Bahasa Arab sebelum resign karena tidak betah dengan gajinya. Haraz tak akan kehilangan ketampanannya hanya karena memakai sepatu ini, pikirku. Detik berikutnya istriku meminta Haraz untuk menemuiku. Dan ternyata benar. Sepatunya seukuran dengan sepatuku. Akhirnya kami bertukar sepatu. Dan begitulah, sampai akhir acara aku memakai sepatu yang solnya hampir lepas. Sedikit tragis dan mengharukan. Tapi demi anak, ini adalah hal yang membanggakan dan akan menjadi kenangan yang tak akan pernah terlupakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Iya, sampai juga akhirnya di pengujung acara. Kami semua berkumpul untuk segera pulang. Termasuk Haraz. Dia tadi berangkat dari rumah kosnya.

“Bapak, kita nggak tukaran sepatu lagi?” tanya Haraz sembari kami melangkah menuju mobil.

“Pakai saja dulu, sampai kamu menemukan pekerjaan nanti,” tukasku membesarkan hatinya.

“Sepatuku juga sudah waktunya ganti, Yah,” celetuk Sara, anakku yang kedua. Aku mengiyakannya sambil terus berlalu. Lalu terdengarlah keriuhan dari anak-anak serta istriku. Aku berjalan semakin pelan. Sol sepatuku semakin menganga lebar. Terlalu cepat langkah kakiku bisa berakibat fatal.

Sesampainya di parkiran aku kembali berjumpa dengan Hakim. Begitu melihatku dia langsung meminta maaf karena tadi tidak bisa membantuku. Matanya sempat melihat langkah kakiku yang sedikit tertatih. Aku harus berjalan pelan agar tidak kelihatan sepatuku sedang menganga lebar. Kami berbasabasi sebentar. Lalu datanglah seorang gadis cantik memakai toga mencium tangannya penuh takzim. Obrolan kami terhenti. Aku pura-pura melihat HP sambil mendengarkan percakapan mereka.

“Bah, kita foto-foto dulu ya sebelum pulang,” gadis itu merengek manja.

“Owh iya. Ajak juga umi dan adikmu di mobil ya,” pinta Hakim pelan. Aku terus mengikuti percakapan mereka. Detik berikutnya gadis itu beringsut pergi, mungkin memanggil ibunya.

“Siapa dia Kim?” tanyaku. Kali ini rasa penasaranku begitu menggelisahkan.

Sebelum menjawab pertanyaanku Hakim tertawa kecil. “ Dia putriku, Pak Arjun” jawabannya lagi-lagi dipungkasi tawa. Mungkin maksudnya untuk merendah. Tapi di telingaku tawa itu terdengar begitu jumawa. Dia pun memanggilku dengan “Pak” pula.

“Anakmu wisuda juga tadi?”

“Iya Jun, makanya tadi aku tidak bisa keluar untuk membelikan lem.”

Aku merasa tertipu.

“Jadi kamu ke sini untuk mengantar wisuda anakmu atau untuk mengantar cucu Kiai Salman?” tanyaku dengan suara sedikit bergetar.

Hakim terdiam. Pikiranku menerka-nerka akan seperti apa jawabannya.

“Kedua-duanya benar, Jun,” jawabnya singkat. Dia kemudian tersenyum bijaksana.

“Jadi? Kamu menjadi menantu Kiai Salman? Menikahi Ning Amalia?”

Sebelum Hakim sempat menjawab pertanyaanku, gadis yang memakai toga tadi sudah datang lagi bersama ibunya beserta anak-anak kecil yang kukira adalah adik-adiknya.

“Ini Ning Amalia, Jun. Istriku. Dan ini adalah anak-anakku.”

Mulutku seolah terbungkam oleh ucapannya. Sulit bagiku untuk mempercayai bahwa abdi ndalem yang dulu begitu kuremehkan itu ternyata kini menjadi menantu Kiai Salman. Tapi apa yang terlihat di depan mata membuatku tidak bisa untuk mengingkarinya. Aku berdiri memaku dengan tatapan kosong. Mereka kemudian berlalu meninggalkanku. Dan aku tidak berani bergerak karena sol sepatuku telah lepas. Mulutnya semakin menganga lebar. Rupanya hidupku penuh kelakar! Lihatlah, bahkan sepatu pun ikut menertawakan kesombonganku! Mukaku terasa kebas. Dadaku pun terasa sesak untuk bernapas.

Bantur, 17 April 2020.

 

 

One Reply to “Dan Sepatu pun Menertawakanku”

Tinggalkan Balasan