Darah Sabilillah

“Emak… Emak… jangan tinggalkan Syahid!” kuhampiri Emak yang sudah tak lagi menghirup udara pulau garam. Kupeluk tubuh Emak yang bersimbah darah. Penjajah biadab. Tak berperikemanusiaan.

Di hadapan jenazah Emak, aku berjanji akan membalas semua ini. Selama napas melekat di jiwa, dengan segala usaha akan mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka, sepeninggal Emak aku mengabdikan diri di sebuah pesantren yang terletak di Kecamatan Ujung Barat, Kabupaten Sumenep. Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep yang menjadi pilihanku menempa diri. Di sana aku belajar banyak hal. Mulai dari ilmu agama sampai ilmu bela diri. Juga ilmu untuk membela bangsa dan negara di bawah asuhan KH Abdullah Sajjad.

***

Guluk-Guluk, 1947

Bulan tersenyum, menjadi penerang saat aku dan ribuan santri lainnya dilatih secara fisik dan digembleng secara rohani untuk menjadi laskar Sabilillah. Sebuah laskar yang didirikan oleh guru KH Abdullah Sajjad, yakni Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari.

“Mari kita kobarkan semangat perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan! Jangan sampai kemerdekaan yang sudah kita genggam kembali direbut oleh penjajah,” tutur KH Abdullah Sajjad malam itu mengobarkan semangat kami.

Dalam hati kecilku berkata dan bertekad, hidup ini akan kugunakan untuk mengusir penjajah dari persada Nusantara. Karena aku tak ingin ada lagi Syahid-Syahid lain yang kehilangan ibunya di ujung senapan Belanda.

***

Awal Juni,1947

Setelah 350 tahun Belanda menjajah Indonesia, mereka tak juga puas mengeksploitasi kekayaan rakyat Indonesia. Proklamasi yang sudah dibacakan oleh Bung Karno pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tak menjadi penghalang bagi negeri orange untuk kembali menjajah. Tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) datang kembali ke Indonesia membonceng pasukan Sekutu.

Pertengahan Juni 1947, wilayah Surabaya, Malang, Pasuruan, termasuk Madura, menjadi incaran pertama pasukan penjajah. Malam itu Kiai mengumpulkan para santri untuk menyusun strategi.

“Kita harus selalu siaga. Para penjajah kapan saja bisa datang kemari. Madura termasuk salah satu incaran pertama mereka. Jangan sampai kita lengah. Saat ini mereka sudah sampai di Pamekasan. Untuk itu, saya akan menugaskan sebagian dari kalian untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Pamekasan,” tutur Kiai kala itu dan menunjuk KH Khazin Ilyas menjadi komando pasukan melawan Belanda di Pamekasan. Namun, aku tak terpilih untuk berjuang bersama beliau.

“Kiai, saya mohon, izinkan saya ikut berjuang bersama Kiai,” ucapku kepada KH Khazin Ilyas dengan nada setengah memohon.

Kiai Khazin Ilyas menghela napas sembari tersenyum. Senyum yang sulit kuartikan.

“Apakah kau yakin mau ikut? Kita ke sana hendak berperang. Bukan sekadar jalan-jalan. Nyawa taruhannya. Kita tak pernah tahu kembali ke sini dalam keadaan hidup atau mati,” Kiai Khazin Ilyas menanyakan tekadku.

“Tekad saya sudah bulat Kiai. Saya ingin ikut berjuang bersama Kiai melawan pasukan Belanda di Pamekasan. Seandainya pun nyawa saya harus melayang, saya rela demi kemerdekaan bangsa ini,” tanpa kusadari tanganku terkepal teringat peristiwa tertembaknya Emak.

“Baiklah kalau memang tekadmu sudah bulat. Mintalah restu pada beliau!” seraya mengarahkan jari jempolnya pada KH Abdullah Sajjad. Aku pun berjalan menunduk, menghampiri beliau.

“Abdina nyu’unah izin. Abdina ngirengah Kiai Khazin Ilyas sareng laskar Sabilillah selaen dhe’ Pamekasan. (Saya mohon izin, saya ingin ikut Kiai Khazin Ilyas dan laskar Sabilillah ke Pamekasan),” tuturku pada KH Abdullah Sajjad dengan penuh harap mendapat restu beliau.

“Apa be’na la siap, Cong, kaangguy norok aperrang? (Apakah kau sudah siap, Nak, ikut berperang?)” tanya beliau padaku memastikan. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai tanda kesiapan. Kemudian beliau memberikan sepotong lidi seukuran jari kelingking padaku.

“Kau taruh lidi ini di dalam pecimu. Tapi ingat, semua kekuatan hanya datang dari dan milik Allah. Bukan dari lidi yang kuberikan ini,” nasihat Kiai padaku.

Tinggalkan Balasan