Dari Bedah Cerpen duniasantri

“Plot harus riil dan logis. Gagasan harus ditentukan dan ditata oleh penulis sebelum menulis, biar apa yang diinginkan penulis tersampaikan dengan baik. Menulis gagasan lebih baik menggunakan bahasa yang sederhana, tidak perlu berbuih-buih,” tuturnya.

Ia juga menambahkan agar dalam bercerita, penulis tidak memasukkan kata (ilmiah) populer, sebab karya cerita tidak sama dengan karya ilmiah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Seterusnya, naskah cerpen kedua, Di Sebuah Negeri yang Hampir Mati. Mas Faiq, selaku pembicara pertama memberi komentar, “Orkestrasi gagasan dan tokoh pembentuk konflik dalam cerpen ini perlu dimunculkan. Jangan berhenti pada pencitraan visual. Juga perlu memasukkan unsur emosi dalam cerita. Metafor atau takwil dalam cerpen ini sudah bagus.”

Putu Fajar Arcana, biasa dipanggil Bli Can, mengimbuhkan mengenai ulasan naskah cerpen kedua. Bahwa, cerpen ini jelas sekali ingin menggarap wilayah surealistis dari kehidupan manusia. Meskipun demikian, kejadian satu dengan lainnya harus selalu terdapat benang merah. Dalam kisah-kisah surealistis, logika tidak boleh diabaikan. Setidaknya, peristiwa satu menjadi alasan munculnya peristiwa yang lainnya.

“Cerpen ini baru sebatas ide atau gagasan yang belum digarap secara lebih matang, sehingga jangkauannya masih terlalu luas. Sebuah cerpen harus fokus menggarap satu persoalan dengan cara bertutur,” jelas Bli Can.

Dalam menguliti cerpen ketiga, Lelaki dan Sekuntum Edelweis, Mas Faiq menegaskan agar penulis tidak sekali-kali memberi penuturan dengan metode khutbah. “Sebab cerita dengan berkhutbah akan membosankan,” lanjutnya.

Sedangkan, Bli Can memberi tanggapan cerpen ketiga ini agak bertolak belakang dengan ketidaktahuan tokoh tentang bunga edelweis. Sebagai pendaki, mustahil ia tidak tahu tentang vegetasi di sebuah gunung.