
Pesantren Al-Amien
Saat prihatin memikirkan nasib Madrasah Mathlabul Ulum yang terpecah, Kiai Djauhari teringat akan congkop peninggalan ayahnya. Ia kemudian bertekad membangkitkan kembali peninggalan ayahnya tersebut dengan membangun congkop baru. Itu dilakukannya pada 1952. Setelah setahun, pondok baru kembali berdiri dan diberi nama Pondok Tegal dan diresmikan pada 10 November 1952. Pondok Tegal inilah yang kemudian berkembang tanpa putus hingga saat ini dan menjadi Pondok Pesantren Al-Amien.

Kini, Pesantren Al-Amien menjadi salah satu pondok terbesar di Pulau Madura, dengan pendidikan yang cukup modern. Lembaga-lembaga pendidikannya meliputi Pondok Tegal, Ma’had TMI Tarbiyatul Mu’allimien al-Islamiyah, Ma’had Putri I, Ma’had IDIA Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien, dan Ma’hat MTA Ma’had Tahfidh Al-Qur’an. Pengelolaannya dilakukan dengan sistem kolektif kolegial oleh beberapa badan pengurus.
Pesantren Al-Amien juga telah banyak menelurkan santri-santri berprestasi, mulai dari bidang dakwah, penulisan esai dalam bahasa Arab, hingga hafidz Quran. Ia juga dipilih sebagai pesantren tangguh menghadapi masa pandemi yang belum jelas kapan berakhir ini.
