Dari Gagasan ke Karya, dari Penulis ke AI

“Liar? Persis seperti penggunaan anggaran proyek untuk rakyat ya.”

“Hus! Ada mahasiswa yang tanya tuh.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Pak, ide saya tentang alien yang jatuh cinta dengan manusia itu bagus nggak?” tanya seorang mahasiswa.

“Tentu saja, asalkan tidak berakhir seperti drama Korea,” jawab saya, mencoba menahan tawa.

Jawaban tersebut bukan dari saya. Itu jawaban AI.

Sebagai seorang penulis, saya tak pernah menyangka hidup saya akan dihantui oleh kecerdasan buatan (AI). Bayangkan, saya sedang asyik menatap layar kosong, berharap inspirasi datang, tiba-tiba muncullah AI yang menawarkan bantuan dengan suara yang lebih sopan dari teman-teman saya.

“Apakah Anda membutuhkan bantuan untuk menulis esai?” tanyanya.

“Ya, tentu saja. Aku bahkan butuh bantuan untuk menemukan kaus kaki yang hilang,” balas saya dalam hati, dengan sedikit kesal karena ternyata AI lebih efisien dalam menemukan ide daripada saya.

Sekali lagi, di era di mana segala sesuatunya berjalan cepat, termasuk pulsa saya yang cepat habis, menulis dan mengendapkan ide menjadi tantangan tersendiri. Seperti seorang detektif yang mencari petunjuk, saya harus memeriksa setiap sudut otak saya untuk menemukan ide-ide yang tersembunyi.

Namun, di tengah proses itu, notifikasi dari media sosial sering kali menyerbu konsentrasi saya. “5 menit mahir menulis!” Saya harus belajar untuk mematikan notifikasi dan fokus pada kata-kata yang ingin saya tuliskan.

Ah, betapa rumitnya menjadi penulis di era digital ini. Kadang saya berpikir, kalau literasi diibaratkan olahraga, maka literasi di era digital ini mungkin lebih seperti yoga sambil menonton serial TV—niatnya sih ingin fokus, tapi kenyataannya lebih sering teralihkan oleh cerita yang tidak ada hubungannya sama sekali!

Tinggalkan Balasan