Video itu bercerita tentang santri yang hidup di antara kitab dan gadget, antara masa lalu dan masa depan, antara keheningan surau dan hiruk pikuk dunia digital. Ia ingin mempersembahkannya pada Hari Santri, agar semua tahu: santri bukan hanya penjaga tradisi, tapi juga penulis masa depan.
Namun malam sebelum hari besar itu, pesantren tiba-tiba gelap. Wi-Fi padam, listrik mati, dan seluruh file videonya hilang. Seolah tangan tak terlihat menyapu bersih segala kerja kerasnya. Ia menangis tanpa suara di pojok kamar, sementara angin menyingkap tirai dan menggigilkan hatinya.

Pagi berikutnya, aula pesantren penuh santri. Kiai Ma’shum berdiri di panggung kecil. “Hari ini,” katanya, “Kita saksikan karya dakwah terbaik dari santri kita.”
Alya menatap layar proyektor. Lalu ia terdiam. Judulnya: Santri di Ruang Ketiga — Karya Faris bin Hasan.
Itu videonya. Suaranya, tulisannya, puisinya. Tapi namanya dihapus. Aula bergemuruh tepuk tangan, dan Kiai tersenyum penuh bangga. Alya hanya memandang lantai, menahan air mata yang pahit.
Malamnya, ia mendatangi Faris. “Kamu mencuri videoku,” katanya dengan suara gemetar.
Faris menatap lama. “Aku menyelamatkannya. Kau tak tahu, pesantren hampir ditutup. Aku kirim videomu ke Kiai agar pesantren terlihat hidup. Dan lihat, berkat itu, pesantren kini punya donatur, kitab baru, dan nama kita harum.”
Alya tak bisa menjawab. Di antara rasa kecewa dan haru, ia sadar bahwa dakwahnya telah berubah arah—tanpa dirinya pun, pesannya telah berjalan. Tapi tetap, ada luka yang tak mudah dijelaskan oleh logika iman.
***
Hari-hari berlalu. Alya berhenti membuat video. Ia memilih menulis catatan kecil di buku bersampul lusuh. Di halaman pertama ia menulis: “Ruang ketiga adalah tempat di mana doa berjumpa dengan suara.”
Suatu sore, Kiai memanggilnya lagi. “Alya,” katanya lembut, “tahukah kau siapa yang pertama memasang Wi-Fi di pesantren ini?”
Alya terdiam. “Faris?”

Cerpen yang mantap 🌹