Dari Langit Pesantren

Kiai tersenyum samar. “Aku.”

Ia menatap langit-langit musala, lalu berkata pelan, “Aku ingin tahu, siapa santri pertama yang berani menggunakannya untuk dakwah. Dan ternyata, itu kamu.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Air mata Alya jatuh. “Tapi, Yai… saya gagal menjaga niat itu.”

Kiai tersenyum, “Kadang, kegagalan justru cara Allah menyingkapkan makna ikhlas. Kau bukan kehilangan video, Alya. Kau sedang disucikan dari pujian.”

Malam turun. Pesantren kembali tenang. Di bawah sinar bulan, Alya membuka laptopnya sekali lagi. Layar menyala pelan, dan di situ muncul folder baru “Langit Pesantren-03.”

Ia membuka. Di dalamnya, hanya ada satu file video tanpa nama. Ia klik. Suara lembut mengalun: “Santri bukan tentang tempat kau menunduk, tapi tentang bagaimana kau menegakkan cahaya.”

Alya tertegun. Ia tak pernah merekam suara itu. Tapi suaranya terdengar seperti perpaduan antara dirinya, Faris, dan… suara Kiai.

Sejak malam itu, tak ada yang tahu siapa yang mengunggah video “Santri di Ruang Ketiga” yang muncul lagi di dunia maya—tanpa nama, tanpa wajah, hanya suara dan cahaya. Tapi setiap kali Hari Santri tiba, video itu kembali muncul, entah dari mana, dan ribuan orang merasa disentuh olehnya.

Beberapa santri bersumpah melihat bayangan berjubah putih di ruang gudang malam itu—meninggalkan aroma kayu cendana yang lembut. Alya hanya tersenyum. Ia tahu, sebagian rahasia pesantren memang tidak ditulis di kitab, tapi di langit.

Dan di halaman terakhir bukunya, ia menulis satu kalimat:

“Jika doa adalah cahaya, maka santri adalah lentera yang berjalan di antara dua dunia—dunia ilmu, dan dunia yang mencari makna ilmu itu.”

One Reply to “Dari Langit Pesantren”

Tinggalkan Balasan