Pakde yang diteriaki anak kecil itu tak lain adalah Joko Widodo, alias Jokowi, Presiden Republik Indonesia. Ketika itu, Rabu 23 Desember 2021, Jokowi baru saja membuka Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Darussaadah Lampung Tengah, Lampung. Siang itu, di bawah sengatan matahari, iring-iringan mobilnya melintasi jalanan yang agak becek karena hujan hari sebelumnya.
Ribuan muktamirin, warga nahdliyin yang hadir di arena Muktamar, ingin ikut menjadi saksi hari bersejarah itu. Termasuk si anak kecil itu, yang bahagia meskipun sekadar bisa melihat mobil yang membawa Jokowi melintas dari celah kaki anggota Banser yang menjadi pagar betis di sepanjang jalan. Ya, bukan Paspampres yang mengamankan jalanan di arena Muktamar itu, melainkan pasukan Banser NU.

Dari pojok tikungan jalan itu kita bisa merasakan “alam bawah sadar” muktamar-muktamar NU: selalu ada tempat, selalu memberi tempat, kepada siapa saja.
Saya ikut merasakan momen-momen itu bahkan sejak berangkat dari Jakarta sehari sebelum Muktamar dimulai bersama rombongan jejaring duniasantri. Di sepanjang perjalanan, di tempat-tempat peristirahatan atau pemberhentian, kami akan langsung saling mengenali bahwa kami sedang menempuh perjalanan yang sama, dengan tujuan yang sama, meskipun cara kami “menampilkan diri” selalu beragam warna —laiknya warga nahdliyin.
Momen-momen seperti itu akan lebih terasa lagi ketika kita berada di arena Muktamar. Jumlah muktamirin memang tak sembludak muktamar-muktamar sebelumnya karena pembatasan-pembatasan akibat pandemi. Tapi tetap saja jumlahnya mencapai ribuan orang. Mungkin lebih dari sepuluhan ribu orang.
Di sana keragaman nahdliyin itu nyata. Ada yang datang dengan mobil-mobil mewah berpakaian necis nan klimis. Ada yang datang bersama rombongan naik bus dengan bersarung dan berpeci. Ada yang harus mengendarai motor dengan menempuh jarak ratusan kilometer. Ada rombongan yang gowes sepeda. Ada yang berambut gondrong nan gimbal. Ada yang berblankon. Ada yang perutnya kempis menahan lapar. Ada yang gendut ngemil tiada henti. Ada yang zikirnya khusyuk, mungkin ada pula yang salatnya tak sempurna. Namun semuanya diberi tempat, dan mendapat tempat, di arena muktamar.
Mereka disebut “romli” alias rombongan liar karena memang datang tanpa diundang (secara resmi). Karena itu mereka “tahu diri”, tak ingin masuk ruang-ruang sidang tempat muktamirin resmi berdiskusi, berdebat, dan mengambil keputusan. Mereka juga tak peduli siapa nanti yang akan dipilih untuk memimpin organisasi ini. Yang mereka niatkan hanyalah hadir, berada di arena di muktamar, berdekat-dekat dengan para kiai, dan memperoleh barokah. Itu saja.

Selalu keren tulisannya pak👏👍
Yerima kasij infonya Gus