***
“Alam bawah sadar” muktamar ini dengan sendirinya juga menjelaskan “alam bawah sadar” NU selama ini: sebagai organisasi berbasis keagamaan yang terbesar bahkan di dunia, NU selalu memberi tempat kepada siapa saja, dengan kelas, karakter, dan corak pemikiran apa saja. Dan dari sanalah kekuatan NU itu nyata, sebenarnya.

Tapi inilah yang membuat orang-orang yang tidak paham sering menyebut NU suka ngaco baik dalam praktik maupun pemikiran keagamaan. Anak kecil yang sedang jongkok itu, adalah bagian dari berjuta-juta generasi nahdliyin yang sedang mereka incar, yang ingin mereka “selamatkan” dari ke-nahdliyin-an atau ke-NU-an.
Tengah malam menjelang pembukaan Muktamar itu, saya kebetulan terlibat diskusi dengan seorang pengurus ranting NU dari sebuah desa di Lampung. Betapa orang-orang yang tak sepaham dengan NU, atau menentang ajaran dan praktik keagamaan NU, yang dia sebut sebagai Wahabi atau Salafi, kini tengah menggerogoti kekuatan-kekuatan atau basis nahdliyin di pelosok-pelosok desa — bisa jadi ini terjadi di seantero negeri.
Terutama melalui jalur pendidikan dan kegiatan keagamaan, mereka menawarkan pendidikan-pendidikan yang lebih baik terutama kepada keluarga-keluarga nahdliyin yang masih miskin. Selanjutnya mereka akan mengajak keluarga-keluarga nahdliyin yang masih miskin itu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang mereka adakan.
“Buktinya sudah banyak, yang dulu rutin tahlilan dan yasinan sekarang sudah tidak mau lagi. Bidah, sesat, katanya,” kata teman diskusi saya itu.
Saya tidak tahu, karena saya cuma “muktamirout” alias hadir di sana tapi di luar pagar, apakah fenomena pucuk gunung es ini juga didiskusikan di ruang-ruang sidang Muktamar itu atau tidak. Yang saya khawatirkan adalah kelak tak ada lagi anak kecil berjongkok di arena muktamar seperti yang saya saksikan tempo hari. Saya khawatir tak bisa lagi mengenali dia sepuluh tahun lagi atau dua puluh tahun lagi.

Selalu keren tulisannya pak👏👍
Yerima kasij infonya Gus