Dari Temu Sagara Penyair ASEAN ke Puncak Festival

Rangkaian Festival Dunia Santri 2026 akan memasuki puncaknya pada Sabtu, 24 Oktober 2026 mendatang. Sebelum itu, sebagai “pemanasan”, pada Jumat (16/10/2026), jejaring duniasantri (JDS) menggelar “Temu Sagara Penyair ASEAN” di Gedung M Tabrani, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.

Acara tersebut menghadirkan puluhan penyair dari negara-negara di Asia Tenggara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Timor Leste. Di antaranya Taufiq Ismail, Mohamad Saleeh Rahamad, Jamal D. Rahman, serta D. Kemalawati, Mustafa Ismail, Fatin Hamama, Fikar W. Eda, Angin Kamajaya, Beni Satria, Usman Gumanti, Radzi Mustapa, Rozan Azen Rasip, Datin Barupawati Utamaju Baharum, Puan Julia Ikin, Amislina, En Mazelan, dan Aya Rohaiyah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Acara ini dibuka oleh Sekretaris Badan Bahasa RI, Dr Ganjar Harimansyah. Dalam acara yang oleh Ganjar disebut sebagai ruang perjumpaan sastra di antara negara-negara tetangga ini, diisi pembacaan puisi oleh penyair lintas negara, launching buku 99 Puisi Cinta Lintas Negara, orasi kebudayaan oleh Jamal D. Rahman, dan pemutaran film dokumenter perjalanan maestro sastra Indonesia Taufiq Ismail.

Pembacaan puisi diawali duet maestro dari dua negara, Taufiq Ismail dari Indonesia dan Datin Barupawati dari Malaysia. Taufiq Ismail membacakan puisinya yang berjudul Doa, dan Datin Barupawati membacakan puisinya yang berjudul Cinta Jatuh. Setelah itu, secara bergantian para penyair lintas negara tampil membacakan puisi dalam berbagai tema.

Pada peluncuran buku 99 Puisi Cinta Lintas Negara, menghadirkan tiga narasumber yang merupakan kurator dari buku tersebut. Mereka adalah D. Kemalawati, Mustafa Ismail, dan Mohamad Saleeh Rahamad dari Malaysia. Diskusi yang mengisahkan lahir antologi puisi tersebut dipandu Angin kamajaya.

Pada akhir acara, pemutaran film dokumenter tentang Taufiq Ismail menjadi bagian penting yang memperluas dimensi kesastraan lintas negara dan lintas generasi. Jika puisi menghadirkan gagasan melalui bahasa dan imajinasi, film dokumenter membuka ruang untuk mengenali sosok sastrawan melalui medium audiovisual.

Kehadiran dokumenter tentang Taufiq Ismail juga menempatkan warisan kesusastraan Indonesia dalam percakapan kebudayaan yang lebih luas. Sosok penyair tidak hanya dapat dikenali melalui teks yang dibaca, tetapi juga melalui dokumentasi perjalanan, pemikiran, dan kiprahnya dalam kehidupan sastra.

Dalam konteks festival, pemutaran film dokumenter dapat menjadi jembatan antara generasi. Publik, terutama generasi muda dan kalangan santri, memperoleh kesempatan untuk mendekati dunia sastra melalui medium yang berbeda dari buku dan pembacaan puisi.

Perpaduan sastra dan film tersebut memperlihatkan upaya membawa tradisi intelektual dan kebudayaan yang tumbuh di lingkungan santri ke ruang pergaulan yang lebih luas. Festival ini tidak hanya menjadi panggung ekspresi seni, tetapi juga membuka peluang dialog antarkultur melalui karya, pemikiran, dan perjalanan tokoh-tokoh kebudayaan.

Kehadiran dokumenter tentang Taufik Ismail juga menempatkan warisan kesusastraan Indonesia dalam percakapan kebudayaan yang lebih luas. Sosok penyair tidak hanya dapat dikenali melalui teks yang dibaca, tetapi juga melalui dokumentasi perjalanan, pemikiran, dan kiprahnya dalam kehidupan sastra.

Dalam konteks festival, pemutaran film dokumenter dapat menjadi jembatan antara generasi. Publik, terutama generasi muda dan kalangan santri, memperoleh kesempatan untuk mendekati dunia sastra melalui medium yang berbeda dari buku dan pembacaan puisi.

Pertemuan antara film dokumenter dan sastra juga memperlihatkan pentingnya merawat ingatan kebudayaan. Dokumentasi tokoh dan perjalanan intelektual menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi, sekaligus membuka kemungkinan pembacaan baru terhadap peran sastrawan dalam kehidupan masyarakat.

Saat memberikan sambutan pembukaan, Ganjar Harimansyah mengungkapkan bahwa pertemuan sastra semacam ini menunjukkan bahwa diplomasi kebudayaan tidak selalu berlangsung melalui forum formal. Puisi dapat menjadi bahasa bersama yang memungkinkan masyarakat dari latar budaya berbeda saling memahami.

“Melalui rangkaian kegiatan Festival ini, jejaring duniasantri bisa menjadi jembatan untuk menghadirkan ruang pertemuan antara tradisi dan perkembangan zaman, antara karya sastra dan dokumentasi audiovisual, serta antara pengalaman lokal dan wawasan global,” ujarnya.

Dan, puncak dari rangkaian Festival Dunia Santri 2026 akhirnya akan digelar di Gedung Makara Art Center Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (24/10/2026) ini.

Tinggalkan Balasan