Dari Teologi Individual Menuju Teologi Sosial

Di dalam buku ini dijelaskan bahwa mustadh’afin tidak selalu terkait dengan dengan struktur masyarakat industri, walaupun ia muncul akibat pola produksi yang tidak adil. Terdapat masalah ideologis yang bersumber pada konsep teologis, di mana kaum mustadh’afin cenderung tidak ditempatkan sebagai bagian dari kemusliman dengan label yang sering disebut “abangan”.

Bagian akhir buku ini membahas agenda mengubah ritus menjadi aksi. Berbagai praktik ritual yang selama ini dipercaya dilakukan bagi maksud pembebasan kemiskinan tidak pernah berhasil hanya karena praktik ritual tersebut lebih ditujukan bagi kepentingan diri sendiri atas nama Tuhan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hal ini yang menyebabkan orang mudah tergelincir dan menjadikan kaum mustadh’afin sebagai objek pencarian pahala. Artinya, membantu kaum lemah hanya didasari motif untuk menumpuk pahala dengan harapan Tuhan selalu memberi balasan berupa rezeki bagi kepentingan nasibnya di dunia dan nanti di akhirat. Praktik ritual (ibadah sosial) ini kemudian bergeser dari soal “mengurusi mustadh’afin” menjadi ritual “mengurusi Tuhan”.

Selain maksud teoritis tersebut, “teologi kiri” juga bermaksud memberi landasan teologis kepada para aktivis yang belakangan sering dituduh ke-kiri-kiri-an. Tidak ada maksud melawan atau menolak labelisasi yang tak adil dan tak jujur tersebut. Namun demikian, buku ini berusaha mengubah persepsi bahwa membela kaum buruh, orang miskin, mereka yang tertindas, diperlakukan tak adil, merupakan ibadah dan amal saleh yang sama pentingnya dengan pergi haji dan puasa.

Uraian pendahuluan dan bagian akhir buku ini sebagian merupakan naskah yang pernah dimuat koran, majalah dan jurnal, serta ditulis dalam berbagai kegiatan diskusi dan seminar. Akibatnya, pembaca sering kali mendapatkan paparan terasa terputus-putus, sehingga cukup bisa mengganggu.

Tinggalkan Balasan