Rusmin melihat kalung yang melingkar di leher istrinya. Kalung itu hasil dia mencuri. Syukurlah dia terbangun dari mimpi yang membuatnya ngos-ngosan. Keringat dingin memenuhi dahi lelaki itu.
“Dek, kalungmu dijual, ya?”

“Loh, kenapa? Baru saja kemarin Mas belikan ini untukku,” gerutunya.
Rusmin mengatur napas sejenak. Dia berusaha mengendalikan napasnya supaya suasana menjadi normal kembali. Dengan hati-hati dia memberitahukan bahwa kalung yang dipakai istrinya itu adalah hasil dari dia mencuri. Lelaki itu berusaha membuka aib di depan istrinya.
Siti yang belum tahu pun terkejut. Wanita itu menggeleng. Dia tak menyangka bahwa suaminya mampu melakukan hal yang terlarang itu.
“Aku barusan mimpi dipenjara seumur hidup. Aku takut, Dek.”
Pertahanannya untuk membendung air mata runtuh. Isakan Rusmin membuat iba istrinya. Kemudian, dia memeluk wanita di depannya itu. Wanita itu pun ikut terisak-isak. Suasana kamar mereka menjadi haru biru malam itu.
“Ya sudah, Mas. Aku rela kalung ini dijual untuk mengganti barang yang Mas curi. Aku harap setelah ini Mas Rusmin tidak mencuri lagi,” pinta Siti seraya sesekali isakan wanita itu muncul.
“Iya, Dek. Terima kasih untuk semuanya. Mas takut, Dek. Sangat takut.”
“Untung saja itu hanya mimpi. Allah masih sayang kita. Dia menegur Mas melalui mimpi. Ya, sudah, Mas mau aku ambilkan minum?” tawar Siti seraya mengusap peluh yang masih tersisa di dahi Rusmin.
Lelaki itu hanya mengangguk pelan. Kebetulan sekali kerongkongan Rusmin sudah kering dari tadi. Teriakan di mimpi tadi seolah nyata, sampai membuat kering kerontang bagian leher dalamnya.
Setelah mimpi buruk yang menimpa Rusmin itu, dia tidak berani lagi untuk mencuri. Kini dia berusaha sekuat tenaga untuk mencari nafkah yang halal dan baik untuk anak dan istri tercintanya. Dia tak mau lagi termakan oleh rayuan Tegar yang mengajaknya untuk melakukan pencurian. Dari Tegarlah awal mula Rusmin menjadi maling.
Riau, 11 Oktober 2021.
