Napasnya pendek. Semua rambutnya sudah beruban, guratan-guratan di wajahnya menunjukkan jejak perjalanan panjang yang sudah dilaluinya. Sudah tak memiliki gigi, tetapi ia tetap sehat tanpa keluhan penyakit apa pun.
“Mungkin bahkan di zaman Majapahit pohon itu sudah ada. Makanya, orang-orang anggap pohon ini adalah pohon keramat. Bahkan sering kali di bawah pohon ini, digunakan untuk pembuangan tumbal oleh warga setempat. Sering kali mereka memuja pohon ini sebelum Kiai Suaib mendirikan pesantren ini. Meskipun saat ini ada beberapa orang tertentu yang masih memuja pohon ini. Kiai Suaib pun enggan menebang pohon ini. Kata Kiai Suaib, kalau ditebang maka bencana akan datang,” Mbah Surip bercerita.

“Iya Mbah, saya melihat sendiri orang-orang itu meletakkan sesaji,” timpal Sanusi.
“Iya, tapi kalau sekarang hanya hari-hari tertentu. Biasanya mereka mendatangi pohon ini ketika 10 Suro, atau Jumat legi.”
Sanusi hanya terdiam dan bertanya-tanya dalam pikirannya, mengapa Kiai Suaib tidak menebang pohon beringin itu. Padahal pohon tersebut bisa menjadi sumber dari kemusyrikan.
Setelah mendengar cerita dari Mbah Surip, ia melanjutkan menyampu daun-daun beringin, sambil berselawat dalam hati. Dan, cerita itu menjadi kenyataan dalam benak Sanusi.
Menjelang sore, Sanusi mendengar suara gemeretak ranting, debu beterbangan karena diterpa angin. Sekawanan burung kecil hinggap di pohon itu. Setelah menyapu halaman surau, ia kemudian mengisi jamban di belakang surau menggunakan senggot.
***
Malam harinya, setelah mengaji, Sanusi memberanikan diri untuk menanyakan kepada Kiai Suaib mengapa pohon beringin itu belum juga ditebang. Ia berjalan menuju ke arah kediaman Kiai Suaib. Ia berjalan sambil menyimpan dada yang terus berdebar kencang. Ia memberanikan diri untuk menanyakan soal pohon itu.
Sanusi sudah di depan kediaman Kiai Suaib dan bersiap untuk masuk. Ia dipersilakan untuk masuk ke dalam. Sanusi mengucapkan salam, lalu duduk. Dari rautnya, ia mengalami sedikit kegugupan yang nyata. Untuk mengawali pembicaraan, ia menarik napas panjang, lalu dikeluarkan.
“Ada apa San? Sepertinya ada yang penting,” tanya Kiai Suaib.
Untuk sesaat ia terlihat tampak seperti orang latah. Kemudian ia mencoba menenangkan diri dan mengatakan apa yang sebenarnya mendorong dirinya untuk menghadap Kiai Suaib.
“Eee,,, jadi begini Kiai, apa sebaiknya pohon beringin di depan surau kita tebang saja. Sering kali saya melihat, orang-orang meletakkan sesaji di pohon itu. Apa itu tidak menjadi sumber kemusyrikan?” kata Sanusi.
“Jangan. Biarkan pohon itu hidup. Kita tidak pernah tahu maksud dari orang-orang meletakkan sesaji itu di bawah pohon. Berpikirlah seolah-olah mereka melakukan penghormatan terhadap pohon beringin itu. Terlepas dari itu, pohon itu sangat berguna bagi kita. Setidaknya bisa menyerap air supaya tidak banjir. Pohon itu begitu rindang, sayang sekali kalau ditebang. Setiap helai daun akan berzikir kepada-Nya,” jawab Kiai Suaib.
