Di Bawah Pohon Beringin

“Kita sadarkan mereka pelan-pelan,” sambung Kiai Suaib.

Keesokan harinya, Sanusi masih menjumpai orang yang menaruh sesaji di bawah pohon beringin itu. Ada yang menyalakan dupa, ada yang bersemadi, ada yang hanya meletakkan sesaji berupa hasil bumi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dulu, pendirian pondok pesantren dan surau ini awalnya mendapat protes dari beberapa warga. Suatu ketika di malam hari ada sebuah semburat cahaya merah meluncur ke kediaman Kiai Suaib. Santri-santri yang melihatnya tertegun dan panik. Mereka langsung menuju ke halaman kediaman Kiai Suaib untuk memastikan apa yang terjadi. Beberapa kemudian, Kiai Suaib bangun dari tidurnya dan menyuruh mereka segera bubar dari tempat itu.

“Tidak ada apa-apa, bubar saja,” perintah Kiai Suaib.

Dalam perjalanan menuju pondokan, mereka masih membicarakan tentang apa yang mereka lihat tadi.

“Cahaya tadi apa ya?”

“Kemungkinan, itu teluh.”

“Tapi siapa yang mengirimkan teluh itu?”

“Mungkin orang-orang yang tidak menghendaki Kiai Suaib mendirikan pesantren ini.”

“Ya, bisa jadi, di kampung ini banyak orang yang menguasai ilmu hitam.”

“Ya sudah, lebih baik kita istirahat, hari sudah malam,” Sanusi mengakhiri pembicaraan.

***

Setelah beberapa hari Sanusi menghadap Kiai Suaib, hujan turun dengan deras disertai angin kencang. Guntur menggelegar menakutkan, seolah-olah langit seperti akan pecah.

Beberapa genteng surau rontok karena angin. Sementara itu, ada suara pohon roboh, suaranya begitu keras. Sanusi bergegas melihatnya, pohon beringin itu roboh. Sebagian dahannya mengenai serambi surau. Penyangga genteng patah, genteng jatuh berserak, sebagian pecah.

Tinggalkan Balasan