Pagi ini, 6 Januari 2026, di Al-Zastrouw Library, saya membaca kembali sajak yang dikirim via WhatsApp oleh Ngatawi Al-Zastrouw—Kang Zastrouw—pada tanggal 3 Januari 2026, yakni berselang tiga hari dari titik perayaan tahun baru. Sajak berjudul “Sang Kala” itu tidak sekadar hadir sebagai teks, tetapi seperti tangan tak kasat mata yang menarik ingatan, pikiran, dan batin saya kembali ke hari-hari yang telah lewat: tahun 2025, dengan segala retak, lubang, dan sisa-sisa yang belum sepenuhnya saya tutup. Diam-diam, saya bertanya pada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan, dan bagaimana seharusnya saya berdamai dengan hari-hari yang terlewat begitu saja?
Sejujurnya, pagi ini saya tidak merencanakan menulis esai. Agenda saya sederhana: mengirimkan empat puisi ke redaksi duniasantri.co. Setelah itu, menyelesaikan beberapa pekerjaan lain; merapikan buku, mencari rak buku dan meja kerja. Beres. Namun begitu saya membuka kembali file puisi yang dikirimkan Kang Zastrouw, ada sesuatu yang bergerak pelan namun pasti—magis yang tak kasat mata—seperti bait puisi “Sang Kala”:

Bergerak tanpa rupa
Tak terlihat tetapi ada
Tak berbentuk tetapi nyata
Tak terjamah tapi terasa.
Barangkali itulah Sang Kala: ia tidak mengetuk pintu, tidak meminta izin, tidak pula menjelaskan maksud kedatangannya. Ia hanya hadir—dan tiba-tiba kita sadar, ada banyak yang tertinggal.
Tidak, saya tidak sedang ingin meratap atau menyesali kesia-siaan masa lalu secara sentimental. Tetapi membaca sajak ini, terutama larik tak terjamah tapi terasa, seakan sebuah cermin besar ditegakkan di hadapan saya. Di sana tampak jelas kesombongan yang diam-diam menggunung, keangkuhan yang setiap hari meruncing, serta sikap batin yang—tanpa sadar—sering berkata kepada dunia: akulah yang paling benar, akulah yang paling tahu.
Siapa di antara kita yang dengan jujur mau mengaku bahwa hari-hari kita kerap dihabiskan dengan berjibaku pada luka yang sama? Siapa yang bersedia mengatakan bahwa kita telah menyinggung, menyakiti, bahkan melukai perasaan orang-orang terdekat—lewat kata, tulisan, atau sekadar unggahan yang kita anggap sepele? Kita pandai menunjuk keluar, tetapi gagap ketika diminta menoleh ke dalam.
Karena bagaimanapun, dalam “Sang Kala”, Kang Zastrouw menulis: “Dalam diri Sang Kala / tersimpan berjuta peristiwa / menjadi saksi semesta / memendam selaksa misteri.” Bait ini, bagi saya, bukan sekadar pernyataan puitik tentang waktu, melainkan semacam pengadilan sunyi yang berlangsung tanpa palu hakim. Ia tidak berteriak, tidak menunjuk hidung siapa pun, tetapi justru karena itu daya gugatnya terasa lebih dalam. Waktu digambarkan sebagai ruang ingatan raksasa yang menyimpan segala sesuatu—yang kita rayakan maupun yang kita sembunyikan, yang kita banggakan maupun yang kita tutupi rapat-rapat. Di hadapan Sang Kala, tak ada peristiwa yang benar-benar lenyap; semua tercatat, meski tidak selalu dalam bentuk yang kita pahami.
Ya, kutipan bait di atas memang seperti sedang memarahi kita, tetapi bukan dengan nada menghardik. Ia memarahi dengan cara yang lebih kejam sekaligus lebih jujur: menelanjangi. Ia memaksa kita berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup ini dipenuhi jejak-jejak yang tak bisa dihapus begitu saja. Setiap keputusan, setiap kelalaian, setiap kesia-siaan, dan setiap niat baik yang gagal diwujudkan, semuanya terendap sebagai misteri dalam tubuh waktu. Dan di situlah kita mendadak sadar—yang telanjang bukan waktu, melainkan diri kita sendiri, lengkap dengan segala alasan, pembenaran, dan kepura-puraan yang selama ini kita bangun untuk menipu hati sendiri.
