Di Hadapan Mata Sang Kala

Di titik inilah Brecht dan Kang Zastrouw saling bersitatap. “Sang Kala” menyimpan berjuta peristiwa, sementara Brecht membongkar satu demi satu peristiwa itu agar kita tak lagi bersembunyi di balik dalih. Waktu boleh terus bergerak, tetapi kesalahan yang tak diakui hanya akan berputar, menjelma nasib yang sama, dari Marie Farrar ke nama-nama lain yang tak sempat kita kenal.

Tak seorang pun memiliki kuasa atas waktu. Yang mungkin kita lakukan hanyalah menguasai diri—agar tidak sepenuhnya takluk. Manusia, waktu, dan semesta berjalan paralel, seperti tiga sisi mata uang yang sama. Namun fondasi dari semuanya tetap satu: kesadaran diri. Tanpa itu, Sang Kala bukan hanya akan melindas hari-hari kita, tetapi juga meninggalkan kita dalam kesia-siaan yang berulang—tahun demi tahun, tanpa pernah benar-benar belajar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebab, sebagaimana ditulis Ngatawi Al-Zastrouw, Sang Kala adalah sesuatu yang “bergerak berabad-abad / tak pernah lelah / tak kenal jeda / terus bergerak tanpa henti.” Ia tidak menunggu kesiapan kita. Ia tidak peduli pada alasan, penundaan, atau dalih yang kita susun rapi untuk menenangkan nurani. “Siapa mengadang akan dilindas,” tulisnya, dan pada titik itu kita sadar: yang sering dilindas bukan hanya tubuh dan usia, melainkan juga niat-niat baik yang tak pernah sungguh-sungguh kita wujudkan.

Namun Sang Kala, dalam pembacaan saya, bukan semata algojo yang dingin dan bengis. Ia juga, seperti diakui Kang Zastrouw, “jatah hidup / yang diberikan pada manusia.” Sebuah kesempatan yang bergerak di garis takdir, lalu suatu hari berhenti di titik ajal. Di sanalah waktu tidak lagi hadir sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat yang keras sekaligus adil: bahwa setiap detik adalah titipan, dan setiap hari adalah peluang untuk memilih—apakah kita ingin hidup dengan kesadaran, atau sekadar terbawa arus kebiasaan.

Maka pagi ini, di hadapan mata Sang Kala, saya memilih untuk tidak banyak berkata. Saya hanya bisa diam. Mendengar. Membiarkan waktu menatap balik diri saya sendiri—dengan segala retaknya, kelalaiannya, dan kemungkinan-kemungkinan yang masih tersisa. Dan—barangkali—mulai membersihkan diri, sekali lagi. Bukan untuk menantang waktu, melainkan agar ketika ia terus bergerak tanpa rupa, tanpa jeda, dan tanpa kompromi, saya tidak sepenuhnya hadir sebagai korban, melainkan sebagai manusia yang, setidaknya, telah belajar menyadari hidupnya sendiri.

Serua, 6 Januari 2026.

Sumber ilustrasi: freepik.

Tinggalkan Balasan