Di Hari Kematianku

Kali ini, sesuatu berubah. Di bawah bayangan pekat pohon beringin, aku melihat seorang pria paro baya dengan rambut putih sepanjang bahu dan kumis lebat berwarna sama. Ia berlutut di depan sesajen yang tersusun rapi — bunga, kelapa muda, dan kemenyan yang mengepul. Asapnya menari di udara malam, membentuk bayangan aneh di wajahnya yang pucat.

Ia berdoa dengan begitu khusyuk, bibirnya berkomat-kamit pelan seolah membisikkan sesuatu kepada kegelapan. Entah apa yang dia pinta, aku tidak tahu — tapi ada sesuatu yang membuat bulu kudukku kembali berdiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku melangkah sedikit mendekat. “Pak… Pak, aku boleh minta tolong?” tanyaku hampir tak bersuara. Tak ada jawaban. Ia tetap diam, bahkan tak menoleh. Hanya suara api kecil dari dupa yang masih menyala, berdesis halus di antara kesunyian.

“Pak…,” panggilku lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Pria itu tetap tak bergerak. Namun, udara mendadak menjadi dingin. Angin berhenti. Malam menjadi terlalu senyap. Lalu perlahan — sangat perlahan — pria itu menoleh. “Pulanglah, aku mengizinkanmu. Tapi… kembalilah ke sini setelah urusanmu selesai, karena tempat ini adalah rumah barumu,” capnya berat.

Aku tidak benar-benar mengerti apa maksud dari perkataannya. Namun yang terpenting sekarang, aku harus segera pulang. Mama pasti menungguku.

Tanpa banyak berpikir, aku melangkah cepat, meninggalkan pria paro baya itu sendirian di bawah pohon beringin. Angin malam berembus lembut, membawa aroma dupa yang masih tersisa.

Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, melewati jalan berbatu yang terasa semakin sunyi. Beberapa saat kemudian, deru kendaraan di jalan besar mulai terdengar. Aku mendongak lega — rumahku tampak di ujung sana. Tempat di mana kehangatan dan ketenangan seharusnya menunggu.

Namun, langkahku terhenti  ketika kulihat banyak orang berkerumun di depan rumah. Aneh… malam sudah larut, tapi kenapa begitu ramai? Aku mempercepat langkah, rasa penasaran dan cemas mulai menekan dadaku. Dari kejauhan aku bisa melihat wajah-wajah yang kukenal — tetangga, teman-teman sekolah, bahkan beberapa di antara mereka menangis tersedu-sedu. Aku mendekati Lina, sahabatku sejak SMP, yang tengah terisak di depan pagar rumah.

“Lin… ada apa? Kenapa kalian di sini?” tanyaku dengan suara gemetar.

Lina tak menjawab. Ia hanya menunduk, menangis semakin keras. Aku mencoba menepuk bahunya, namun seolah tubuhku menembus udara. Ia bahkan tidak menoleh. Aku mulai panik. “Lina! Jawab aku!” Tak ada respons.

Tinggalkan Balasan