Orang-orang di sekelilingku juga seolah tak menyadari kehadiranku. Jantungku berdegup kencang, udara terasa semakin dingin. Dari dalam rumah, terdengar suara teriakan — suara yang begitu kukenal, suara yang telah menemaniku sejak kecil. Itu suara Mama. Tapi… kenapa terdengar begitu pilu?
Aku berlari masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, kulihat Mama berlutut sambil menangis histeris, memeluk seseorang yang terbujur kaku di lantai. Aku mendekat perlahan, jantungku berdetak kencang, mataku berusaha mengenali wajah itu di antara linangan air mata dan cahaya lampu yang temaram. Dan saat akhirnya kulihat dengan jelas… tubuhku seakan membeku.

Perempuan itu— wajahnya… begitu mirip denganku. Tidak. Bukan hanya mirip. Itu aku. Aku terpaku, tubuhku gemetar. “Tidak mungkin… itu aku…” bisikku. Aku ingin berteriak, tapi tak ada suara. Dunia terasa jauh, seolah menolak keberadaanku. Jika yang terbujur di lantai itu adalah aku… lalu aku sendiri siapa?
Aku mencoba mendekati Mama, mencoba memeluknya, tapi tubuhku menembus udara—tak ada yang bisa kurasakan, seolah aku hanya bayangan. “Ma…” panggilku, tapi ia tidak menoleh. Tangisnya semakin keras, memanggil namaku berulang-ulang. Air mataku mulai jatuh, tapi aku bahkan tidak yakin apakah itu nyata. “Kenapa… kenapa begini?” suaraku menggema dalam ruang hampa. “Apa aku sudah mati? Tapi… kenapa aku masih di sini?”
Tak jauh dari tempatku berdiri, kulihat seseorang berdiri mematung di sudut ruangan. Seorang gadis berpakaian serba merah. Aku tertegun. Itu dia —Perempuan dari rumah bambu. Tatapannya kosong, wajahnya pucat, dan langkahnya begitu pelan saat ia mendekat. Sebelum sempat aku berkata apa-apa, tangannya yang dingin menggenggam erat tanganku. “Anita…” suaranya lembut namun menusuk, “Ayo kita pulang.”
Aku menatapnya bingung. “Pulang? Pulang ke mana? Ini rumahku!” jawabku dengan nada tinggi, berusaha meyakinkan diriku sendiri. Namun ia hanya menatapku tanpa ekspresi, mata hitamnya seolah menelan cahaya di sekitarnya. “Anita,” bisiknya lagi, pelan. “Kamu sudah mati. Ayo, pulang.”
Aku terpaku. Kata-katanya bergema di kepalaku, memecah sisa keyakinan yang masih kupegang. “Rumah baru?” gumamku lirih. “Apa maksudmu… rumah baru?” Gadis itu hanya tersenyum tipis — senyum yang tak membawa kehangatan, melainkan kehampaan.
Aku mencoba mengingat… memaksa pikiranku untuk menembus kabut yang menutup segalanya. Tiba-tiba rasa sakit menusuk kepalaku, membuatku berteriak — dan sekelebat ingatan melintas begitu jelas. Ya… sekarang aku ingat. Saat itu aku sedang menyeberang jalan. Langit mulai gelap, hujan rintik-rintik membasahi aspal. Aku sempat menoleh ke kanan dan kiri, tapi semuanya begitu cepat. Sebuah mobil melaju kencang, entah dari mana datangnya. Suaranya meraung, lampu depannya menyilaukan mata. Lalu— Brak! Tubuhku terpental jauh. Dunia berputar, suara di sekitarku menghilang. Aku hanya merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhku… darah mengalir dari kepala, pandanganku mulai mengabur. Sebelum semuanya benar-benar gelap, samar-samar aku melihat beberapa orang berlari mendekat, menjerit panik. Lalu… hanya sunyi.
Gadis berpakaian merah itu menggenggam tanganku semakin erat. Aku ingin menolak, tapi tubuhku kaku, langkahku mengikutinya tanpa bisa kuhentikan. Mama masih menangis di belakang, suaranya semakin jauh, semakin samar.
“Sudah waktumu, Anita,” ucap gadis itu datar, matanya kini berwarna hitam legam.
Aku menoleh sekali lagi ke arah Mama, berusaha memanggil, tapi suaraku tak keluar. Lalu semuanya perlahan gelap. Saat kusadari, aku berdiri di depan rumah bambu itu—hanya saja kali ini, di dalamnya ada satu foto baru tergantung di dinding. Foto seorang gadis yang tersenyum… Potretku sendiri.
