Di Mana Makam Ninik Mamak Kami?*

Orang-orang di kampung kami mempercayai bahwa Buya Mudik membangun pesantren di sini karena berdampingan dengan jalan lurus. Namun, aku tidak mempercayai cerita itu seperti orang-orang di kampungku yang tidak mempercayaiku.

Menurutku, tempat berdirinya pesantren berdasar dendam. Belasan tahun lalu, di tanah itu ada sebuah Balai Adat yang digunakan para penghulu dan tokoh adat di kampung kami untuk bermusyawarah. Namun, balai adat tiba-tiba terbakar di suatu malam—di tengah gejolak Perang Padri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Satu-satunya cerita yang kupercayai di kampung ini hanya kutukan tentang pesantren. Pemimpin pesantren hanya bertahan selama 33 hari. Pada hari ke-33, mereka akan mengeluarkan busa dari mulutnya lalu mati dengan wajah yang menghitam. Ketika Buya Ardi datang memimpin pesantren dan bersedia menerimaku, aku berpikir hanya bisa menjadi santri selama sebulan tiga hari. Namun, ketika aku bersiap mengemasi pakaian pada hari ke-32 Buya Ardi memimpin pesantren, suara erangan mengejutkanku.

Aku meninggalkan pakaian yang berserakan di atas lantai, lantas bergegas menuju halaman. Di sana, para santri berdiri melingkar. Aku menyelinap, lalu mendapati Buya Ardi dengan rotan di genggamannya.

“Kenapa kau masuk ke kamar mandiku?”

“Karena aku ingin membersihkannya.”

Buya Ardi memukulkan rotan di tangannya ke punggung Minsi. “Kenapa kau melanggar laranganku?”

“Aku tidak ingin melihatmu mandi di pinggir kali.”

Buya Ardi kembali memukulkan rotan di tangannya dan kembali bertanya, “Kenapa kau masuk ke kamar mandiku?”

“Kamar mandi itu kotor.”

Plak!

“Kenapa kau melanggar laranganku?”

“Aku sering melihatmu ke batang air membuang hajat dan aku ingin membersihkan kamar mandimu!”

Plak!

Buya Ardi terus mengulangi pertanyaannya dan Minsi bersikukuh pada jawabannya.

***

Seluruh pakaianku sudah terkumpul di atas sarung yang terbentang. Usai menyatukan sudut kiri atas sarung dengan kanan bawah lalu mengikatnya; menyatukan sudut kanan atas sarung dengan kiri bawah lalu mengikatnya, aku mengangkatnya lalu melangkah menuju pintu. Namun, aku baru saja memunggungi pintu ketika mendengar suaranya. Aku menoleh dan mendapati Buya Ardi yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?”

Ini hari ke-33 dan Buya Ardi masih terlihat seperti biasa. Aku memandang wajahnya. Tak ada busa di mulutnya dan tak ada warna hitam pada wajahnya. Wajah itu tampak putih dan berseri-seri.

“Kau mau ke mana?”

“Bolehkah aku tidur di kamarmu?”

“Masuklah, tapi jangan sesekali masuk ke kemar mandiku.”

Aku tercekat, “Buya?”

Ia menghentikan langkah, lalu melihatku dari sudut mata.

“Bagaimana dengan Minsi?”

Tinggalkan Balasan