“Aku mau memukulkannya beduk,” katanya, lalu kembali melangkah.
“Ia mati?”

Buya Ardi kembali menghentikan langkah, dan tanpa menoleh ke arahku, ia mengatakan, “Ya, ia mati.”
Kematian Minsi cepat menyebar di kampung kami. Orang-orang seketika berdatangan seperti tentara Belanda ketika masuk ke kampung kami. Beberapa orang mengatakan, kematian santri itu disebabkan cambuk yang dipukulkan ke punggungnya berulang-ulang. Ada pula yang menghubungkannya dengan kematian para buya yang sudah-sudah. Buya Ardi telah menumbalkan santri untuk kesalamatannya.
Namun, aku memang sukar percaya pada apa pun yang keluar dari mulut orang-orang kampungku yang gemar berdusta. Menurutku, kematiannya karena melanggar pantangan. Kamar mandi itu tempat terlarang dan itulah alasan Buya enggan memasukinya.
Hari sudah malam ketika pikiranku masih tertuju pada makam-makam yang digali setiap 33 hari. Para penghuni makam itu memiliki kesamaan sesaat ajal: mulut berbusa lalu wajah yang menghitam. Rahasia apa yang tersimpan di kamar mandi itu sehingga Buya Ardi melarang siapa pun untuk memasukinya?
“Buya?”
Buya Ardi tak menyahutiku. Ia hanya menoleh sejenak ke arahku, lalu tidur membelakangiku.
Aku ingin memanggilnya kembali lalu bertanya, tapi bibirku lekas terkatup sesaat terbuka. Buya Ardi memang tak banyak bicara setelah obrolan di malam itu. Di mana makam ninik mamak kami yang mati saat Perang Padri?
***
Barangkali, ada air yang selalu mengalir dari pancuran bambu menuju bak semen atau ember penampung air. Di sisi kanan atau kirinya, terdapat sebuah lubang kecil tempat pemimpin pondok membuang hajat. Kami tak pernah tahu. Kami tak bisa memastikan seperti apa bentuk di balik pintu itu. Pintu kamar mandi selalu tertutup. Tertutup rapat dan tidak ada seorang pun yang boleh masuk.
Buya Ardi duduk di dipan; aku bersila di lantai dan Karimi memilih berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding yang menghadap pintu kamar mandi. Barangkali, ada satu-dua santri yang masih membaca kitab kuning, beberapa lainnya sedang berzikir atau telah menutup mata setelah menyerahkan hidup-matinya kepada Allah. Namun, kami bisa memastikan tdak seorang pun yang mengetahui pertemuan kami. Malam itu, Buya bertanya, “Ada pertanyaan?”
Aku baru saja ingin menganga ketika Karimi menarik punggungnya dari dinding, “Sebelum pesantren ini didirikan, Kaum Padri menyerang ninik mamak dan membakar balai adat. Ada yang terluka dan ada yang tak pulang ke rumah. Ada kaum yang mencari pengganti dan ada kaum yang larut mencari makamnya. Di mana makam ninik mamak kami?”
Buya Ardi menatap mataku lalu bicara sungguh-sungguh. Pada masa itu, Kaum Padri ingin meluruskan adat di Minangkabau yang melenceng dari ajaran Islam. Kendati beribadat, sebagian besar ninik mamak dan kemenakannya masih gemar mengadu ayam, meminum tuak, mengisap candu, dan Kaum Padri sudah mengingatkan agar menghentikan tradisi itu.
Perselisihan terjadi dan membesar menjadi Perang Padri. Namun, ada sekelompok orang yang mengatasnamakan Kaum Padri lalu menyerang balai adat di siang hari lalu membakarnya pada malam hari. “Namun, apa yang mereka lakukan pada sore hari? Tak banyak yang tahu. Bagi yang tahu tak banyak bicara karena enggan disebut sebagai penerus Jendral Cochius.”
“Di mana makam ninik mamak kami?”
Setiap kaum mengingat serangan pada balai adat, ninik mamak yang berjatuhan dan ninik mamak yang beruntung melarikan diri dengan luka yang menganga. Ingatan kemudian larut pada bentuk balai adat dan kobaran api yang melumatnya di malam hari.
“Balai adat memang terbakar, tapi tidak dengan kolam ikan di belakangnya. Di mana ninik mamak yang mati? Pada sore hari, mereka melemparkannya ke kolam lalu menguburkannya bersama ikan-ikan. Di mana ninik mamak Karimi, ninik mamakku yang mati, dan ninik mamak yang Datuk gantikan?”
Aku menoleh, lalu mendapati Karimi yang berbicara tanpa suara.
Buya memanggil Karimi, lalu menyebut gelarku. Telapak kakinya menjejak lantai. Tak lama, ia telah merunduk ke bawah dipan dan mengeluarkan palu dan pahat. Ia melirik sekop dan cangkul yang tersandar di depan pintu kamar mandi. Selama beberapa saat, kami lupa pada keringat yang terus mengalir. Kami telah membuka pintu lalu menggali tanpa henti.
Usai Perjanjian Masang, penjajah meninggalkan kenangan yang sering dilupakan oleh orang-orang di kampung kami. Mereka membuat sebuah bangunan yang kemudian disulap menjadi pesantren. Ada ruangan besar yang bisa digunakan untuk belajar. Ada kamar mandi besar dengan tujuh pincuran. Ada sebuah kamar dengan kamar mandi kecil.
Namun, siapa pun yang membuang kotoran di kamar mandi kecil itu, kotorannya akan terkirim menuju kolam masa silam yang kini menjadi rawa. Siapa pun yang meludah dan kencing di tempat itu, ia telah meludahi dan mengencingi ninik mamak yang bermakam di kolam ikan.
Sariak Laweh, 2024.
Catatan:
[1] Gadang bakarelaan adalah pergantian ninik mamak /datuk/penghulu kaum karena yang menyandang gelar sudah tidak sanggup karena usia yang menua.
[2] Mangambang nan talipek adalah pergantian ninik mamak/datuk/penghulu kaum karena yang menyandang gelar sudah wafat.
*Satu dari Tiga Cerpen Pilihan Lomba Penulisan Ekologi Kaum Santri 2024.
