“Ya karena apabila saya sebesar sampean, saya dapat mengurus diri sendiri, misalnya mandi, tidak lagi merepotkan ibu. Selain itu, saya bisa membantu meringankan pekerjaan ibu yang setiap hari cukup sibuk mulai dari memasak, membersihkan rumah, dan lain sebagainya atau membantu pekerjaan bapak yang mencari nafkah —demi mencukupi kebutuhan sekeluarga— dengan cara bertani di sawah…”
“Memang iya,” tanggap sampean yang remaja, “hal-hal seperti itu dapat saya lakukan dan rasanya senang dapat membantu orang tua. Tapi, tidak seperti sampean, apabila telah sebesar saya, bisa mengalami kesedihan karena cinta…”

“Wah, soal cinta…” sahut sampean yang belia sembari matanya melirik seekor capung yang menclok pada sebatang ranting yang terkapar di tanah depan rumah, “saya tidak tahu apa-apa. Saya masih bocah. Cobalah, sampean bercerita padanya…” telunjuknya mengarah pada sampean.
Sampean —yang sedari tadi, kendati awalnya heran, namun kemudian senang melihat sampean dalam beberapa fase usia itu bertemu-terlibat dalam suatu obrolan— rada kaget saat sekonyong-konyong ditunjuk oleh sampean yang belia. Namun demikian, sampean segera menyat, berjalan menghampiri mereka. Sayangnya, demikian benak sampean, sesampai sampean di hadapan mereka, sampean yang belia segera beranjak untuk kemudian tampak dengan hati-hati hendak menangkap capung yang loreng hijau motifnya. Padahal sampean ingin mengelus-elus kepalanya.
Kemudian, lagi-lagi tanpa sampean tanya, sampean yang remaja mencurahkan apa yang dipikir-rasakannya. Hanya, kali ini disertai permintaan saran pada sampean atas persoalannya. Kemudian, setelah hening untuk beberapa saat, sampean menanggapi dengan melempar tanya, “Berarti sampean tengah mencintai seseorang, sementara orang tersebut tidak mencintai sampean?”
“Ya,” jawabnya.
“Bagaimana rasanya?”
“Rasanya… rasanya, bagaimana ya…”
“Tidak usah sampean sebutkan, tidak mengapa, saya dapat mengerti karena saya pun pernah mengalaminya. Pertanyaannya sekarang, pernahkah sampean dicintai seseorang, sementara sampean tidak mencintai orang tersebut?”
“Pernah,”
“Bagaimana rasanya?”
“Rasanya… rasanya, bagaimana ya…”
