“Tidak usah sampean sebutkan, tidak mengapa, saya dapat mengerti karena saya pun pernah mengalaminya…”
Setelah jeda sejenak sampean menambahkan, “Di situlah mungkin Gusti Allah Ta’ala sedang mengajari sampean lewat pengalaman untuk bersimpati—mengerti—baik terhadap perasaan sampean sendiri maupun perasaan orang lain dalam berhubungan dengan orang lain, khusunya dengan lawan jenis terkait hal cinta.”

Sementara sampean yang remaja tampak manggut-manggut, sampean menambahkan, “Di samping itu, selain cinta, masih banyak hal yang dapat membahagiakan di usia sampean. Seperti yang tadi sampean bilang: dapat membantu orang tua adalah hal yang membahagiakan. Atau lantaran ketulusan dan kesetiaan dalam pertemanan, seperti saat mengantar seorang teman dolan, saling mentraktir makanan, hingga bahkan saling meminjam apa yang dimiliki seperti pakaian. Bukankah hal itu membahagiakan sampean? Juga ketajaman menerima pelajaran di usia sampean, itu adalah hal yang membahagiakan. Karena mungkin belum banyak hal yang dipikirkan oleh sampean, setidaknya bila dibandingkan saat seumur saya. Karenanya manfaatkanlah sebaik-baiknya waktu sampean untuk belajar…”
Sampean berhenti memberi nasehat saat sampean yang belia menarik-narik tangan sampean yang remaja, kemudian memintanya menangkapkan capung untuknya.
Untuk beberapa saat seberkas kelegaan tampak berhasil menggusur kemurungan di wajah sampean. Kemudian, kendatipun melintas dalam benak keinginan untuk bergabung bersama mereka, hal ini sampean urungkan demi menyeduh kopi lebih dahulu untuk kemudian sampean nikmati sembari memandangi mereka asyik dalam permainan.
Sayangnya, sekembalinya sampean dari dalam rumah, sampean tidak lagi mendapati mereka di pekarangan. Sekarang yang tampak di mata sampean: pepohonan itu menyuguhkan sebidang keindahan alam seusai hujan. Subhanallah, demikian ucap sampean atas apa yang sedang sampean saksikan.
Alhamdulillah, puji sampean selanjutnya sebagai ungkapan terima kasih kepada Gusti Allah Ta’ala atas karunia yang diberikan pada sampean—yang jumlahnya, subhanallah, tidak ada yang sanggup menghitungnya kecuali Sang Pemberi, yakni Gusti Allah Ta’ala—di antaranya kemampuan dalam diri sampean mengaitkan peristiwa-peristiwa yang sampean alami di masa silam untuk mengatasi persoalan-persoalan yang sedang sampean hadapi, juga kemampuan dalam diri sampean untuk membayangkan.
Sekarang, kendatipun sampean belum menemukan solusi atas persoalan sampean, sampean berpikir bahwa mungkin lewat persoalan demi persoalan dalam hidup sampean, Gusti Allah Ta’ala—Rabbul ‘alamin, Pemelihara, Pendidik seluruh alam—mengajari sampean untuk mengalami dahulu kesulitan atas persoalan yang sedang sampean hadapi untuk kemudian mengalami kemudahan setelah mengatasinya. Ibarat saat sampean mendapat pekerjaan yang baru—yang belum pernah sampean kerjakan—yang awalnya sepertinya sulit, namun, seiring memikirkan pekerjaan itu dan setahap demi setahap mengerjakannya, sampean dapat menyelesaikannya.
Akan tetapi, di lain sisi, pada beberapa kejadian, bahkan pada pekerjaan yang menurut sampean mudah—karena sering sampean kerjakan—sampean kadang mengalami kesulitan menyelesaikannya. Pada titik ini, sampean meyakini bahwa kemudahan menyelesaikan pekerjaan atau persoalan hidup hanya atas berkat rahmat Gusti Allah Ta’ala;
Sekarang, kendatipun sampean belum menemukan solusi atas persoalan sampean, ketimbang mumet memikirkannya, ada baiknya sampean menikmati keindahan yang hadir lewat pepohonan di pekarangan depan rumah sampean. Bukankah Gusti Allah Ta’ala menghadirkan itu untuk sampean nikmati—untuk sampean kagumi—sehingga terbit rasa syukur dalam hati sampean? Kemudian, siapa tahu dan mudah-mudahan seiring sampean mensyukurinya Gusti Allah Ta’ala—Zat yang Maha Pemurah, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang senang dan memberi kemudahan atas persoalan sampean.
Doplangkarta, 10:32, 18 Mei 2022.
ilustrasi: IVAA
