Dialog Akhir Ramadan

“Waalaikum salam. Masuk, Le. Kalian duduk dulu di ruang tamu,” tampak suara Bibi Surti mempersilakan.

“Seto di rumah Bi? Kok tadi saya tidak melihatnya di musala,” tanya Lukman begitu melihat Bibi Surti.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tidak tahu, Le. Akhir-akhir ini Seto sering mengunci diri di kamar. Jika ditanya, sering uring-uringan. Bibi bingung menghadapinya.”

“Kemarin kami juga merasakan keanehan seperti itu. Seto tidak seperti dulu. Sekarang Seto di mana, Bi?”

“Seto tidak di rumah. Tadi pagi pamit. Ingin ziarah ke makam bapaknya sekaligus lebaran di rumah neneknya.”

“Tapi Seto tidak berkata apapun sebelumnya ke Bibi?”

“Tidak. Hanya saja, beberapa hari yang lalu, Seto merasa minder dengan kalian semua. Kalian sudah lulus dan kerja. Seto malah di-DO dari kuliahnya. Terlalu lama tidak lulus katanya. Pingin kumpul dengan kalian, tapi sungkan karena kalian sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.”

“Padahal kami malah ingin bantu Seto. Saya juga kaget kok sekarang mudah tersinggung.”

“Ada lagi pesannya kepada Bibi sebelum pergi. Mbok, jika teman-temanku datang ke rumah menanyakan keadaanku, berarti aku masih dianggapnya teman. Jika tidak pernah datang ke rumah, saya ingin tetap di rumah nenek saja.”

Ahsan, Lukman, dan Udin merasakan ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Ingin segera menyelesaikan semuanya. Ahsan langsung mengambil ponselnya. Menelepon ke nomor Seto.

“Pulanglah Seto. Siapa yang mengumandangkan takbir jika kamu berlebaran di sana?” kalimat Ahsan kepada Seto.

“Iya Seto. Seperti biasa, hari pertama lebaran kita keliling ke tetangga sekitar. Hari kedua kita silaturrahim ke guru-guru kita. Hari ketiga kita sowan ke ndalem Kiai Salman,” Lukman meraih ponsel yang dipegang Ahsan.

“Aku ingin di sini dulu, Ahsan, Lukman, Udin. Setelah lebaran usai, aku pasti kembali.”

“Apa yang kamu cari di sana? Kamu tidak sedang dalam amarah kan?”

“Tidak. Aku ingin menjadi manusia merdeka dan apa adanya. Tidak ada yang pernah tahu riwayatku.”

Seto tetiba menutup panggilan teleponnya. Tanpa salam. Tanpa titik yang tergurat tandas. Rintik hujan mulai membasahi halaman. Ketiganya berpamitan. Dan ini menginjak malam ke-27, semoga ada doa-doa kebaikan dari para sahabatnya untuk menjemput takdir baik Seto.

Tinggalkan Balasan