“Sedekah Hutan 2024 kali ini bertujuan untuk mengenal dan mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal dalam upaya pelestarian lingkungan hidup,” kata Ketua Umum Bakul Budaya Dewi Fajar Marhaeni. Menurutnya, masyarakat adat, baik di Indonesia maupun di dunia, sudah melakukan antisipasi terhadap kerusakan lingkungan tanpa merusak ekologi.
Di samping itu, lanjut Dewi, Sedekah Hutan tahun ini dimaksudkan untuk mendorong gerakan Ramah dari Rumah sebagai upaya mengurangi setoran sampah ke TPA sekaligus membangun ekonomi sirkular di masyarakat.

“Gerakan ini harus terus digaungkan agar tercipta kesadaran di masyarakat akan pentingnya memilah dan memanfaatkan sampah,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala MAC UI Ngatawi Al Zastrouw menjelaskan, Sedekah Hutan merupakan upaya melakukan saintifkasi terhadap kearifan lokal dan sistem pengetahuan para leluhur terkait dengan upaya menjaga alam dan pelestarian lingkungan hidup.
“Ketika alam rusak, ekosistem lingkungan hancur akibat keserakahan mamusia dan kemajuan teknologi, sehingga bencana mengancam kehidupan manusia, maka rasanya kita perlu menggali sistem pengetahuan yang ada di dalam tradisi sebagai alternatif untuk mejawab problem lingkungan yang muncul saat ini,” jelasnya.
