KH Muhammad Sholahuddin atau yang biasa disapa Ra Mamak, pendiri Yayasan Sataretanan Sumenep Berdaya, dalam sambutannya mengatakan bahwa akhir-akhir ini masalah pertambangan menjadi isu utama. “Oleh karena itu harus ada logika keabsahan dari grass roots (masyarakat arus bawah) agar menjadi pertimbangan yang berkeadilan bagi bangsa,” demikian Ra Mamak menyampaikan dalam sambutannya.
Masih menurut Ra Mamak, bahwa halakah kali ini sangat penting karena merupakan bagian dari pengelolaan bangsa. Pertambangan tidak lepas dari masalah ekologi. Eksplorasi bumi yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Tidak mudah, tetapi harus tetap diupayakan agar kebumian tetap pada karakternya; hijau.

Sementara itu, Eko Cahyono menyampaikan presentasi dengan judul “Oligarki Rezim Keruk (Tambang) dan Penciptaan Multi Krisis Agraria di Indonesia.” Menurut alumni Komisi Pemberantasan Korupsi ini, “Terciptanya multikrisis agraria karena adanya persekongkolan antara pejabat dan pelaku tambang.”
Masih menurut Eko Cahyono, melalui sebuah tanya retoris, apakah kelimpahan alam di Indonesia merupakan rahmat atau bencana? Tentu dalam hal ini bagaimana individu memandang hal tersebut. Tetapi yang pasti, bahwa kelimpahan sumber daya alam (SDA) harus diolah untuk sepenuhnya kemakmuran rakyat.
