WIRIT RINDU
tasbih yang kauputar menerjemahkan
ketinggian rindu sajadah waktu. di antara
sebuah keceriaan gita cinta di rusuk hawa

bacalah puisi-wirit tiap lamun keindahan,
di sana aku ada dalam mata batin pelukan
“prasangka hujan pertama
duduk di dada september tua”
kupikir kausudah mencintaiku,
eh ternyata malah kautagih
petir-hujan kerinduaku
kemarau dan aku duduk bicara perihal
ketentraman sesaat hujan kaularang
teduh gamang melamar iga tanah
giliran ada kausebut gila -giliran mati
kau merana -bingung meminta hujan apa?
