KEMARAU
tubuh ini kian memanas mengingat jeritan
matahari menyirami keringat-keringat laju sepi
tandang menyelimuti benih rasa dalam dada

kemarau oh kemarau. apa saja tujuan langit
memanaskan rahim bumi-batu-laut dan riak rindu?
kemarau bukan milik ayat daun yang gugur
tidur mengaji kata di lautan sajadah penuh luka
menyilaukan ketagihan makna-kota di dusun rasa.
cukup perasaan yang mengingat derap langkah
dua kaki di kota sepi. suara mobil tandang menyeberang.
semuanya riang suka menafsirkan kata dalam mesra.
kemarau ini milik kita. kita boleh menghirupnya serindu kopi
yang dilarutan dengan air putih sepi. lalu diolah menjadi
ramuan yang paling absurd di ranjang harap tak beratap.
bukan aku yang membawa panas air kota di relung jiwa
tapi kita yang tersapu, oleh jarak rindu yang menggebu.
